"Forcing the foot to walk away from the end of the story."
"I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point."
---
Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama.
Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada.
Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini.
Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tepat dan Semesta memiliki sesuatu yang mampu membuat diri lebih bahagia.
Ah ya, maaf. Maaf bila aku masih melanggar untuk tidak memanggilmu Kekasih. Seharusnya kata itu tidak sepatutnya disini, tidak seharusnya, dan tidak pantas bila aku yang menulisnya. Maaf telah memanggilmu dengan sebutan itu tanpa sepengetahuanmu.
Tidak tahu mengapa, meskipun aku tidak lagi kau anggap penting. Tetapi, kata itu tidak terasa asing.
Dulu, kita pernah bersama memandang senja hingga hilang. Aku diam, menenangkan perasaan. Kita pernah saling menggenggam, dan perasaanku sungguh makin tidak karuan. Kita pernah saling menatap, lalu matamu membuatku semakin tenggelam dalam rasa. Terakhir kali aku merasakan genggamanmu dan usapan jemarimu, hatiku seperti tidak lagi terbentuk, semuanya terasa nyeri. Begitu banyak yang aku rasakan, senang, tenang, pilu, kecewa, ingin menangis. Namun, aku memilih untuk menikmati itu. Dan bila teringat itu, begitu sesak... dan rindu.
Memang benar, aku masih begitu menyayangimu, aku pernah berharap kita kembali. Namun, aku berterimakasih karena kau tidak pernah memilih kembali. Aku senang kau lebih memilih untuk melanjutkan langkahmu, belajar merajut kisah lagi, membangun bahagiamu sendiri tanpaku.
Bila nanti akhirnya kau menemukan seseorang yang mampu membuatmu kembali mencintai dan bahagia, akulah orang yang paling bersyukur. Sebab, Semesta telah mengabulkan doaku. Kau orang yang begitu baik, maka tidak pantas bila aku yang seperti ini harus memilikimu lebih lama lagi.
Sejak perpisahan kita waktu itu dan juga keadaanku sekarang, semuanya tidak ada bedanya. Aku memang melangkah, namun perasaanku tertahan dalam akhir kisah, separuh hatiku terbawa oleh kekecewaanmu.
Aku tidak tahu kapan perasaan ini akan sirna. Yang jelas, aku berharap Semesta membuat semuanya benar-benar selesai dengan baik di waktu yang tepat: perasaanku dan perasaanmu.
Seperti sebuah kain
Kisah kita terajut menjadi satu
Dan kini sudah terlihat rusuh
"I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point."
---
Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama.
Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada.
Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini.
Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tepat dan Semesta memiliki sesuatu yang mampu membuat diri lebih bahagia.
Ah ya, maaf. Maaf bila aku masih melanggar untuk tidak memanggilmu Kekasih. Seharusnya kata itu tidak sepatutnya disini, tidak seharusnya, dan tidak pantas bila aku yang menulisnya. Maaf telah memanggilmu dengan sebutan itu tanpa sepengetahuanmu.
Tidak tahu mengapa, meskipun aku tidak lagi kau anggap penting. Tetapi, kata itu tidak terasa asing.
Dulu, kita pernah bersama memandang senja hingga hilang. Aku diam, menenangkan perasaan. Kita pernah saling menggenggam, dan perasaanku sungguh makin tidak karuan. Kita pernah saling menatap, lalu matamu membuatku semakin tenggelam dalam rasa. Terakhir kali aku merasakan genggamanmu dan usapan jemarimu, hatiku seperti tidak lagi terbentuk, semuanya terasa nyeri. Begitu banyak yang aku rasakan, senang, tenang, pilu, kecewa, ingin menangis. Namun, aku memilih untuk menikmati itu. Dan bila teringat itu, begitu sesak... dan rindu.
Memang benar, aku masih begitu menyayangimu, aku pernah berharap kita kembali. Namun, aku berterimakasih karena kau tidak pernah memilih kembali. Aku senang kau lebih memilih untuk melanjutkan langkahmu, belajar merajut kisah lagi, membangun bahagiamu sendiri tanpaku.
Bila nanti akhirnya kau menemukan seseorang yang mampu membuatmu kembali mencintai dan bahagia, akulah orang yang paling bersyukur. Sebab, Semesta telah mengabulkan doaku. Kau orang yang begitu baik, maka tidak pantas bila aku yang seperti ini harus memilikimu lebih lama lagi.
Sejak perpisahan kita waktu itu dan juga keadaanku sekarang, semuanya tidak ada bedanya. Aku memang melangkah, namun perasaanku tertahan dalam akhir kisah, separuh hatiku terbawa oleh kekecewaanmu.
Aku tidak tahu kapan perasaan ini akan sirna. Yang jelas, aku berharap Semesta membuat semuanya benar-benar selesai dengan baik di waktu yang tepat: perasaanku dan perasaanmu.
Seperti sebuah kain
Kisah kita terajut menjadi satu
Dan kini sudah terlihat rusuh
Komentar
Posting Komentar