Langsung ke konten utama

Do'a, Kita, dan Alam Raya

Tidak mampu kupercayai lebih dalam lagi, karena ini sudah cukup membuatku memahami. Perasaan ini tumbuh melebihi perkiraan awal yang kukira. Semakin tumbuh lebih, setiap harinya, setiap detik yang kulewatkan bersamanya, setiap bahagia yang tercipta, setiap mata dan senyumnya yang memantul dalam ingatan, setiap rasa sakit yang ada, setiap ingatan yang memenuhi pikiran bahkan alam bawah sadar. Semua itu menjadikan perasaanku yang kini tidak lagi memiliki kapasitas, tidak terbatas. Hingga lebihnya perasaan itu, tidak peduli sesakit apa rasanya terkhianati, sekecewa apapun dengannya, semenyakitkan apapun ketika dia bersama seseorang yang lain dibelakangku, aku selalu mampu menerimanya kembali tanpa memperdulikan rasa sakit yang tidak akan pernah pudar. Karena, sekali lagi, perasaan itu selalu mampu mengalahkan rasa sakit. Aku takut jika suatu saat nanti, bila waktunya telah selesai, aku tidak lagi bersamanya, lalu bagaimana rindu akan tersampaikan? Dimana aku bisa menemukan seseorang seperti dia.

Alam raya, bila bisa kuteriakkan perasaanku bahwa ia lebih dari segalanya, lebih dari perasaan yang dimilikinya, aku menyimpan harapan bisa satu dunia bersamanya. Tapi, takdir terlalu menakutkan bila kutitipkan harapan.

Alam raya, aku masih menaruh percaya kisah yang pahit akan membawa kita pada akhir yang manis. Meskipun tidak menjamin, ya, tapi aku berharap akhir nanti tidak begitu buruk.

Alam raya, kutitipkan segenap perasaanku dalam lingkup restumu, jika akhir nanti yang kudapatkan bukanlah hal yang indah. Maka, aku akan tetap berdiri ditempatku dan menerima.

Alam raya, sejak pertama kali aku meminta hal kepadamu untuk menjaga hatinya agar tetap baik-baik saja, aku mengerti bahwa takdir selanjutnya akan membuatku terluka begitu parah, tapi aku memintamu untuk menjaga dia, doa itu berlaku hingga selamanya.

Alam raya, meskipun akhir nanti tidak sesuai harap, tidak menutupi kemungkinan aku akan begitu hancur, setidaknya aku telah melewati masa-masa terindah sejak aku mengenalnya, telah diberi kesempatan untuk satu rasa dan dunia, berbagi segala yang kita punya, aku mengucapkan beribu terimakasih untuk itu.

Terlalu menyakitkan bila membahas akhir, tidak akan pernah mampu untuk tidak jatuh bila itu terjadi. Aku manusia pengeluh, dan dia yang selalu mengingatkanku untuk tidak boleh sering mengeluh. Dia yang selalu berbicara panjang lebar bila aku melakukan hal yang tidak disukainya, bila aku melakukan kesalahan, bila aku tidak menuruti perkataannya. Dia yang tiba-tiba diam karena menahan amarah jika aku membuatnya kesal, dia yang membuatku mengerti arti sabar lebih dalam, dia yang menjadikanku tidak mudah rapuh, dia yang selalu ada ketika hati meronta tak mampu. Alam raya, apa kau tega mengambilnya dariku setelah semua yang telah dilakukannya untuk duniaku? Rasanya selalu terharu melihat perjuangannya yang patut diberikan hal yang lebih dari berharga.

Sehancur apapun nanti, seterpuruk apa aku dengan duniaku setelah kehilangannya. Aku tidak akan pernah bisa membohongi pikiranku bahwa aku akan jauh lebih khawatir dengan dunianya setelah itu. Kuatkan hatinya, semesta, aku selalu percaya dia manusia kuat, dia ditakdirkan untuk selalu mampu menghadapi dunia. Berikan hal-hal baik untuk dunianya, ya, Semesta.

Aku akan menjalani kesempatan ini bersamanya, kalau memungkinkan beribu kesempatan bisa kau berikan, Semesta. Sampai aku bisa membalas segala yang dia berikan untukku. Hal-hal yang berharga, kenangan yang tidak akan pernah kulupa, peluk yang hangat, genggaman yang menenangkan, segala yang ada pada dirinya adalah hal yang patut dibanggakan. Tidak mau apa-apa, hanya mau dia. Perasaan ini seperti langit yang membutuhkan satu bulan untuk membuat semesta lebih indah.

Kekasih, untukmu hatiku kubawakan pada genggammu.

Love eme,
Yang selalu bangga mengenalmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Same Heart

"Forcing the foot to walk away from the end of the story." "I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point." --- Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama. Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada. Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini. Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tep...

Hari Lahir

Hai, waktu begitu cepat berlalu ya. Sampai akhirnya semesta membawamu ke titik ini, titik dimana kau berhasil bertambah usia, detik yang kau pijak saat ini adalah bukti bahwa kau berhasil melewati semua perjalanan hidupmu. Kau berhasil melewati susah senangnya kehidupan, cerah peliknya perjalanan, kau hebat, kau luar biasa. Cobaan tidak membuatmu tumbang, kau selalu mampu bertahan, meskipun kau di titik diterendahmu. Aku senang, kau tidak pernah berfikir untuk benar-benar menyerah. Kau bersyukur untuk hidupmu. Kau memang tidak sempurna, begitu pula aku. Manusia diciptakan untuk memiliki kekurangan, karena itu mereka butuh untuk saling melengkapi. Terima kasih sudah ada, terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengisi duniaku, yang awalnya biasa menjadi lebih bermakna. Terima kasih telah membuatku mengerti apa arti kehidupan. Sudah menemaniku di setiap masalah dalam hidupku. Kau berharga, lebih dari yang kau tahu, aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mengetahui seberapa pent...