Dunia saya tidak seindah yang kalian kira. Dunia saya tidak selalu baik-baik saja. Begitu banyak kebenaran yang hampir tidak saya percayai ketika saya mulai beranjak dewasa. Orang-orang berlalu-lalang, datang lalu pergi, lalu hadir yang lain lagi. Untuk memberi pelajaran, kenangan, dan arti bahwa tidak semua yang datang terus-menerus menetap.
Saya bukannya senang membahas masa lalu, tapi saya tidak pernah bisa memendam sendirian. Kawan, kali ini saya akan tetap menceritakan tentang kisah lama yang sebenarnya dipaksa usai.
Bagaimana rasanya ketika dari awal, bahkan sebelum memulai kisah hingga akhirnya berakhir, perasaan tulusmu selalu diragukan? Tidak baik-baik saja pastinya. Itu yang selalu saya rasakan, hampir setiap malam saya memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak lagi saya pikirkan, bahkan sampai sekarang.
Iya, saya memang meninggalkan, tapi percayalah itu tidak mudah. Yang terlihat mudah, sebenarnya tidak semudah itu, bukan? Tapi, saya lelah tidak dipercaya.
Kawan, jika kalian bertanya mengapa tidak dari awal saja memilih meninggalkan? Sebab, saya harus mempertanggung jawabkan perasaan saya. Saya memiliki perasaan yang sama dengan dia, lalu kenapa saya harus menolak untuk diajak bersama? Saya juga berfikir, bahwa yang dia perjuangkan tidak akan sia-sia. Dia yang sungguh, dan hati saya luluh.
Tidak akan pernah bisa saya bohongi, saya sempat menaruh hati. Kita sempat saling memiliki. Saya pernah begitu bahagia, pun pernah di titik paling sakit dan sulit bangkit. Tidak ada yang baik-baik saja ketika saya mengakhiri. Sekali lagi, saya tidak pernah meninggalkan sebab seseorang yang baru. Mereka tidak akan masuk ketika saya tidak memberi izin.
Saya sempat belajar membuka hati lagi. Bukan karena kesepian, tidak juga mencari pelampiasan. Nyatanya, saya gagal menerima hati, masih belum bisa memulai kisah baru lagi.
---
Percayalah, bahwa saya juga tersakiti karena sebuah akhir. Kita, kamu dan saya. Adalah dua tokoh yang dipilih semesta untuk menjalani sebuah kisah yang telah ditentukan alur dan akhirnya. Yang kita kira selamanya, ternyata sesingkatnya.
Kita sama-sama tersakiti. Tapi, kini semuanya berakhir. Jangan selalu bersikap selayaknya hanya kamulah yang dipihak paling menyakitkan, seakan hanya kamulah korban, dan sayalah satu-satunya yang bersalah.
Bagaimana harus saya katakan bahwa alasan saya pergi bukan sebab ada orang baru? Mengapa saya tetap diam ketika kamu mengatakan hal yang tidak saya lakukan? Karena saya berbicara pun tidak menjamin kamu tidak akan mengulang lagi. Beberapa maaf memang ditakdirkan untuk mengulang hal yang sama.
Kamu mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Saya diam, dalam kerisauan. Menanggung beban diam-diam.
kepadamu,
yang pernah menjadikanku bisu sebab tatapmu
yang pernah mewarnai hari-hariku
yang pernah menjadi rumah tempatku singgah
kita pernah menjadi satu
dalam ruang kasih sayang penuh rindu
lalu semuanya berakhir pilu
pada rindu-rindu yang masih penuh
bukannya berakhir temu, tapi dipaksa menjadi abu
dan kenangan yang tetap mengikuti, selayaknya bayang-bayang
kini rasa itu masih memilih tinggal
kita pernah menjadi sepasang kekasih
memberi arti bahagia dan sedih
dan tak bisa kufahami, kumengerti
kenapa bagimu, perasaanku untukmu hanyalah angan?
ya, aku
yang tak pernah pergi karena ada seseorang yang baru
yang selalu kau ragukan perihal perasaanku
yang bersikap menghargaimu namun kau tak mampu merasakan itu
aku hanya tak ingin melebihkan kecewa
cukup sudah rangkaian kisah
kita sama-sama jatuh, terluka pilu
tak lama, akan segera kita temukan bahagia
mengikhlaskan memang tak mudah
tapi tak mengikhlaskan akan lebih sakit
perasaanku pernah seutuhnya milikmu
yakinlah, aku akan selalu bahagia untukmu
dariku, yang menyayangimu dari jauh
Saya bukannya senang membahas masa lalu, tapi saya tidak pernah bisa memendam sendirian. Kawan, kali ini saya akan tetap menceritakan tentang kisah lama yang sebenarnya dipaksa usai.
Bagaimana rasanya ketika dari awal, bahkan sebelum memulai kisah hingga akhirnya berakhir, perasaan tulusmu selalu diragukan? Tidak baik-baik saja pastinya. Itu yang selalu saya rasakan, hampir setiap malam saya memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak lagi saya pikirkan, bahkan sampai sekarang.
Iya, saya memang meninggalkan, tapi percayalah itu tidak mudah. Yang terlihat mudah, sebenarnya tidak semudah itu, bukan? Tapi, saya lelah tidak dipercaya.
Kawan, jika kalian bertanya mengapa tidak dari awal saja memilih meninggalkan? Sebab, saya harus mempertanggung jawabkan perasaan saya. Saya memiliki perasaan yang sama dengan dia, lalu kenapa saya harus menolak untuk diajak bersama? Saya juga berfikir, bahwa yang dia perjuangkan tidak akan sia-sia. Dia yang sungguh, dan hati saya luluh.
Tidak akan pernah bisa saya bohongi, saya sempat menaruh hati. Kita sempat saling memiliki. Saya pernah begitu bahagia, pun pernah di titik paling sakit dan sulit bangkit. Tidak ada yang baik-baik saja ketika saya mengakhiri. Sekali lagi, saya tidak pernah meninggalkan sebab seseorang yang baru. Mereka tidak akan masuk ketika saya tidak memberi izin.
Saya sempat belajar membuka hati lagi. Bukan karena kesepian, tidak juga mencari pelampiasan. Nyatanya, saya gagal menerima hati, masih belum bisa memulai kisah baru lagi.
---
Percayalah, bahwa saya juga tersakiti karena sebuah akhir. Kita, kamu dan saya. Adalah dua tokoh yang dipilih semesta untuk menjalani sebuah kisah yang telah ditentukan alur dan akhirnya. Yang kita kira selamanya, ternyata sesingkatnya.
Kita sama-sama tersakiti. Tapi, kini semuanya berakhir. Jangan selalu bersikap selayaknya hanya kamulah yang dipihak paling menyakitkan, seakan hanya kamulah korban, dan sayalah satu-satunya yang bersalah.
Bagaimana harus saya katakan bahwa alasan saya pergi bukan sebab ada orang baru? Mengapa saya tetap diam ketika kamu mengatakan hal yang tidak saya lakukan? Karena saya berbicara pun tidak menjamin kamu tidak akan mengulang lagi. Beberapa maaf memang ditakdirkan untuk mengulang hal yang sama.
Kamu mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Saya diam, dalam kerisauan. Menanggung beban diam-diam.
kepadamu,
yang pernah menjadikanku bisu sebab tatapmu
yang pernah mewarnai hari-hariku
yang pernah menjadi rumah tempatku singgah
kita pernah menjadi satu
dalam ruang kasih sayang penuh rindu
lalu semuanya berakhir pilu
pada rindu-rindu yang masih penuh
bukannya berakhir temu, tapi dipaksa menjadi abu
dan kenangan yang tetap mengikuti, selayaknya bayang-bayang
kini rasa itu masih memilih tinggal
kita pernah menjadi sepasang kekasih
memberi arti bahagia dan sedih
dan tak bisa kufahami, kumengerti
kenapa bagimu, perasaanku untukmu hanyalah angan?
ya, aku
yang tak pernah pergi karena ada seseorang yang baru
yang selalu kau ragukan perihal perasaanku
yang bersikap menghargaimu namun kau tak mampu merasakan itu
aku hanya tak ingin melebihkan kecewa
cukup sudah rangkaian kisah
kita sama-sama jatuh, terluka pilu
tak lama, akan segera kita temukan bahagia
mengikhlaskan memang tak mudah
tapi tak mengikhlaskan akan lebih sakit
perasaanku pernah seutuhnya milikmu
yakinlah, aku akan selalu bahagia untukmu
dariku, yang menyayangimu dari jauh
Komentar
Posting Komentar