Langsung ke konten utama

Kepadanya yang Telah Berlalu

Dunia saya tidak seindah yang kalian kira. Dunia saya tidak selalu baik-baik saja. Begitu banyak kebenaran yang hampir tidak saya percayai ketika saya mulai beranjak dewasa. Orang-orang berlalu-lalang, datang lalu pergi, lalu hadir yang lain lagi. Untuk memberi pelajaran, kenangan, dan arti bahwa tidak semua yang datang terus-menerus menetap.

Saya bukannya senang membahas masa lalu, tapi saya tidak pernah bisa memendam sendirian. Kawan, kali ini saya akan tetap menceritakan tentang kisah lama yang sebenarnya dipaksa usai.

Bagaimana rasanya ketika dari awal, bahkan sebelum memulai kisah hingga akhirnya berakhir, perasaan tulusmu selalu diragukan? Tidak baik-baik saja pastinya. Itu yang selalu saya rasakan, hampir setiap malam saya memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak lagi saya pikirkan, bahkan sampai sekarang.

Iya, saya memang meninggalkan, tapi percayalah itu tidak mudah. Yang terlihat mudah, sebenarnya tidak semudah itu, bukan? Tapi, saya lelah tidak dipercaya.

Kawan, jika kalian bertanya mengapa tidak dari awal saja memilih meninggalkan? Sebab, saya harus mempertanggung jawabkan perasaan saya. Saya memiliki perasaan yang sama dengan dia, lalu kenapa saya harus menolak untuk diajak bersama? Saya juga berfikir, bahwa yang dia perjuangkan tidak akan sia-sia. Dia yang sungguh, dan hati saya luluh.

Tidak akan pernah bisa saya bohongi, saya sempat menaruh hati. Kita sempat saling memiliki. Saya pernah begitu bahagia, pun pernah di titik paling sakit dan sulit bangkit. Tidak ada yang baik-baik saja ketika saya mengakhiri. Sekali lagi, saya tidak pernah meninggalkan sebab seseorang yang baru. Mereka tidak akan masuk ketika saya tidak memberi izin.

Saya sempat belajar membuka hati lagi. Bukan karena kesepian, tidak juga mencari pelampiasan. Nyatanya, saya gagal menerima hati, masih belum bisa memulai kisah baru lagi.

---
Percayalah, bahwa saya juga tersakiti karena sebuah akhir. Kita, kamu dan saya. Adalah dua tokoh yang dipilih semesta untuk menjalani sebuah kisah yang telah ditentukan alur dan akhirnya. Yang kita kira selamanya, ternyata sesingkatnya.

Kita sama-sama tersakiti. Tapi, kini semuanya berakhir. Jangan selalu bersikap selayaknya hanya kamulah yang dipihak paling menyakitkan, seakan hanya kamulah korban, dan sayalah satu-satunya yang bersalah.

Bagaimana harus saya katakan bahwa alasan saya pergi bukan sebab ada orang baru? Mengapa saya tetap diam ketika kamu mengatakan hal yang tidak saya lakukan? Karena saya berbicara pun tidak menjamin kamu tidak akan mengulang lagi. Beberapa maaf memang ditakdirkan untuk mengulang hal yang sama.

Kamu mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Saya diam, dalam kerisauan. Menanggung beban diam-diam.

kepadamu,
yang pernah menjadikanku bisu sebab tatapmu
yang pernah mewarnai hari-hariku

yang pernah menjadi rumah tempatku singgah

kita pernah menjadi satu
dalam ruang kasih sayang penuh rindu
lalu semuanya berakhir pilu

pada rindu-rindu yang masih penuh
bukannya berakhir temu, tapi dipaksa menjadi abu

dan kenangan yang tetap mengikuti, selayaknya bayang-bayang
kini rasa itu masih memilih tinggal


kita pernah menjadi sepasang kekasih
memberi arti bahagia dan sedih

dan tak bisa kufahami, kumengerti
kenapa bagimu, perasaanku untukmu hanyalah angan?

ya, aku
yang tak pernah pergi karena ada seseorang yang baru
yang selalu kau ragukan perihal perasaanku
yang bersikap menghargaimu namun kau tak mampu merasakan itu

aku hanya tak ingin melebihkan kecewa
cukup sudah rangkaian kisah

kita sama-sama jatuh, terluka pilu
tak lama, akan segera kita temukan bahagia

mengikhlaskan memang tak mudah
tapi tak mengikhlaskan akan lebih sakit

perasaanku pernah seutuhnya milikmu
yakinlah, aku akan selalu bahagia untukmu
dariku, yang menyayangimu dari jauh

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do'a, Kita, dan Alam Raya

Tidak mampu kupercayai lebih dalam lagi, karena ini sudah cukup membuatku memahami. Perasaan ini tumbuh melebihi perkiraan awal yang kukira. Semakin tumbuh lebih, setiap harinya, setiap detik yang kulewatkan bersamanya, setiap bahagia yang tercipta, setiap mata dan senyumnya yang memantul dalam ingatan, setiap rasa sakit yang ada, setiap ingatan yang memenuhi pikiran bahkan alam bawah sadar. Semua itu menjadikan perasaanku yang kini tidak lagi memiliki kapasitas, tidak terbatas. Hingga lebihnya perasaan itu, tidak peduli sesakit apa rasanya terkhianati, sekecewa apapun dengannya, semenyakitkan apapun ketika dia bersama seseorang yang lain dibelakangku, aku selalu mampu menerimanya kembali tanpa memperdulikan rasa sakit yang tidak akan pernah pudar. Karena, sekali lagi, perasaan itu selalu mampu mengalahkan rasa sakit. Aku takut jika suatu saat nanti, bila waktunya telah selesai, aku tidak lagi bersamanya, lalu bagaimana rindu akan tersampaikan? Dimana aku bisa menemukan seseorang seper...

Same Heart

"Forcing the foot to walk away from the end of the story." "I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point." --- Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama. Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada. Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini. Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tep...

Hari Lahir

Hai, waktu begitu cepat berlalu ya. Sampai akhirnya semesta membawamu ke titik ini, titik dimana kau berhasil bertambah usia, detik yang kau pijak saat ini adalah bukti bahwa kau berhasil melewati semua perjalanan hidupmu. Kau berhasil melewati susah senangnya kehidupan, cerah peliknya perjalanan, kau hebat, kau luar biasa. Cobaan tidak membuatmu tumbang, kau selalu mampu bertahan, meskipun kau di titik diterendahmu. Aku senang, kau tidak pernah berfikir untuk benar-benar menyerah. Kau bersyukur untuk hidupmu. Kau memang tidak sempurna, begitu pula aku. Manusia diciptakan untuk memiliki kekurangan, karena itu mereka butuh untuk saling melengkapi. Terima kasih sudah ada, terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengisi duniaku, yang awalnya biasa menjadi lebih bermakna. Terima kasih telah membuatku mengerti apa arti kehidupan. Sudah menemaniku di setiap masalah dalam hidupku. Kau berharga, lebih dari yang kau tahu, aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mengetahui seberapa pent...