Langsung ke konten utama

Kisah yang Telah Usai

Dengan membaca ini, membaca tulisan-tulisan saya. Maka, kalian akan mengetahui sebagian kecil dari dunia saya. Kalau kalian pernah membaca cerita saya yang berjudul "Altair & Alyra", saya tidak bisa mengelak bahwa cerita itu terinspirasi dari dunia saya sendiri.

Awalnya, cerita itu saya buat untuk menyuarakan hati saya, mewujudkan mimpi-mimpi saya melalui tulisan, mewakili perasaan ikhlas saya kepadanya yang memang perasaan saya tidak akan bisa dia balas. Dan waktu itu, saya berniat, ketika cerita itu telas selesai saya tulis. Maka, akan saya akhiri perasaan saya padanya.

Namun, takdir siapa yang mengerti? Bisa saja sekarang kalian mengatakan tidak untuk suatu hal, lalu entah kapan, bukan tidak mungkin jika hal yang kalian benci menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Misalnya saya, perasaan itu telah usai cukup lama, bahkan sebelum cerita yang saya tulis itu berakhir.

Cerita yang murni dari khayalan saya dan beberapa tokohnya yang memang benar ada dalam nyata. Cerita yang belum rampung itu, terpaksa saya un-publish dari wattpad, namun suatu saat saya akan kembali menceritakan. Tokoh "Altair" memang benar ada, hanya saja saya menceritakan tentang dia tidak sepenuhnya itu adalah dia. Memang dalam cerita, dia adalah seseorang yang memang pantas dibanggakan, begitu mudah untuk membuat jatuh cinta. Tapi, sebenarnya dia bukan seperti itu. Dia pendiam, susah untuk memulai sesuatu terlebih dahulu, dia memberi harapan kepada saya, namun dia berharap kepada masa lalunya.

Tidak perlu menertawakan saya, karena memang benar itu adanya. Tapi, jatuh cinta siapa yang bisa mencegah? Saya jatuh kepadanya ketika dia menolong saya. Kejadian singkat yang membekas. Ketika saya jatuh kepadanya, saya tahu harapan saya tidak akan pernah terwujud, sekalipun harapan yang paling kecil. Saya sudah mengerti bagaimana alur ceritanya, bahkan saya sudah menduga bagaimana akhirnya. Semuanya tidak jauh-jauh dari kenyataan yang ada. Dan semua yang saya duga, benar-benar terjadi.

Saya mengakhiri perasaan saya, berhenti menjadikan dia pusat dunia saya. Bukan karena lelah, tapi cinta selalu mengerti tempat berhentinya. Saya mencintainya dengan ikhlas, tanpa berharap dimiliki, tanpa meminta kembali dicintai. Sebab, saya tulus, yang berarti tanpa berharap apa-apa dan menerima. Ketika saya berharap, saya selalu mencoba menghapusnya, berharap kepada harapan yang tak seharusnya saya harapkan. Sekalipun harapan saya tidak terwujud, saya hanya bisa menerima. Dan saya tidak keberatan untuk itu.

Hadirnya dalam nyata mampu membawa perubahan baik dalam hari-hari saya, meski tanpa hatinya. Walau air mata datang disela-selanya, saya bahagia mencintainya. Tapi, saya tidak ingin bertindak egois ingin memilikinya. Saya tahu dia punya pilihan sendiri untuk hidupnya, saya tidak berhak menolak keputusannya.

Sebenarnya, yang salah dari awal adalah saya. Berdiri di depan pintu hatinya, tanpa mengetuk ataupun ingin masuk. Namun, yang dia lakukan seakan mempersilahkan saya masuk. Yang sebenarnya, dalam hatinya masih ada seseorang yang enggan dia tinggalkan. Menyesakkan memang. Selama ini saya hanya diam, saya tidak pernah berjuang apa-apa, kecuali menyemangati diri saya sendiri. Hingga akhirnya, waktu menyuruh saya berhenti, untuk segala rasa yang saya miliki. Perlahan, saya mampu beranjak dari depan pintu hatinya. Dia tidak menerima saya, juga tidak mengusir saya. Faham maksud saya? Iya, seakan saya sendiri yang berperan dalam cerita ini. Hanya saya tokoh utamanya.

Hingga pada akhir cerita, saya yang memulai sekaligus yang mengakhiri, dan saya terluka sendiri. Tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali menerima. Kawan, setelah kisah ini usai, saya merasa sakit namun lebih banyak leganya. Entah kenapa.

Saya percaya setiap kisah yang berakhir selalu memiliki maknanya sendiri. Setiap cinta selalu ada luka, itu pasti. Tapi, membenci setelah mencintai itu akan semakin menyakiti diri sendiri. Apalagi berharap agar seseorang yang pernah dicintai merasakan apa yang selama ini diri kita rasakan, itu salah. Sama saja seperti balas dendam, ketika kalian tulus, maka kalian akan selalu takut orang yang kalian cintai merasakan hal yang sama seperti yang kalian rasakan.

Cinta memiliki waktu, kapan dia bersemi, kapan dia memilih untuk sendiri. Kapan harus melangkah, kapan dia harus berhenti, mengakhiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do'a, Kita, dan Alam Raya

Tidak mampu kupercayai lebih dalam lagi, karena ini sudah cukup membuatku memahami. Perasaan ini tumbuh melebihi perkiraan awal yang kukira. Semakin tumbuh lebih, setiap harinya, setiap detik yang kulewatkan bersamanya, setiap bahagia yang tercipta, setiap mata dan senyumnya yang memantul dalam ingatan, setiap rasa sakit yang ada, setiap ingatan yang memenuhi pikiran bahkan alam bawah sadar. Semua itu menjadikan perasaanku yang kini tidak lagi memiliki kapasitas, tidak terbatas. Hingga lebihnya perasaan itu, tidak peduli sesakit apa rasanya terkhianati, sekecewa apapun dengannya, semenyakitkan apapun ketika dia bersama seseorang yang lain dibelakangku, aku selalu mampu menerimanya kembali tanpa memperdulikan rasa sakit yang tidak akan pernah pudar. Karena, sekali lagi, perasaan itu selalu mampu mengalahkan rasa sakit. Aku takut jika suatu saat nanti, bila waktunya telah selesai, aku tidak lagi bersamanya, lalu bagaimana rindu akan tersampaikan? Dimana aku bisa menemukan seseorang seper...

Same Heart

"Forcing the foot to walk away from the end of the story." "I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point." --- Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama. Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada. Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini. Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tep...

Hari Lahir

Hai, waktu begitu cepat berlalu ya. Sampai akhirnya semesta membawamu ke titik ini, titik dimana kau berhasil bertambah usia, detik yang kau pijak saat ini adalah bukti bahwa kau berhasil melewati semua perjalanan hidupmu. Kau berhasil melewati susah senangnya kehidupan, cerah peliknya perjalanan, kau hebat, kau luar biasa. Cobaan tidak membuatmu tumbang, kau selalu mampu bertahan, meskipun kau di titik diterendahmu. Aku senang, kau tidak pernah berfikir untuk benar-benar menyerah. Kau bersyukur untuk hidupmu. Kau memang tidak sempurna, begitu pula aku. Manusia diciptakan untuk memiliki kekurangan, karena itu mereka butuh untuk saling melengkapi. Terima kasih sudah ada, terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengisi duniaku, yang awalnya biasa menjadi lebih bermakna. Terima kasih telah membuatku mengerti apa arti kehidupan. Sudah menemaniku di setiap masalah dalam hidupku. Kau berharga, lebih dari yang kau tahu, aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mengetahui seberapa pent...