Pada akhirnya, manusia dipertemukan untuk kembali dipisahkan. Kembali diajarkan untuk mengikhlaskan. Menghilangkan segala hal yang pernah terjadi, dan melupakan? Saya rasa yang satu itu tidak perlu. Karena menurut saya, melupakan hanyalah angan yang tidak pernah menjadi kenyataan. Mereka yang pernah bersama, tidak akan lagi melakukan sesuatu yang selama ini sudah menjadi kebiasaan, perlu menempuh perjalanan panjang, berkali-kali mencoba bangkit ketika terjatuh.
Masing-masing dari mereka yang dipisahkan, hanya perlu saling mengikhlaskan, yang pada dasarnya membuat diri lebih tenang daripada melupakan. Rasanya memang hampir putus asa waktu itu. Saya tahu bagaimana rasanya, karena perpisahan kerap terjadi di hidup saya. Semua usaha yang saya lakukan dari nol, tidak memiliki hasil apa-apa, tapi tidak terasa sia-sia. Apalagi merasa menyesal, hanya saja saya menyayangkan. Kenapa akhir cerita tidak pernah ada yang bahagia?
Hingga pada akhirnya, saya terbangun di suatu pagi. Di suatu desa yang saya cintai karena kesunyiannya, di tempat yang lebih baik dari kota. Di tempat yang selalu mampu membuat saya menjadi diri sendiri. Tidak ada teman, kecuali hening dan diksi. Dan di jalanan berbatu, melalui sawah-ladang, saya merenung. Mengingat percakapan dan pertemuan dengan setiap orang di hidup saya yang akhirnya perlahan pergi.
Bukan hal yang asing lagi jika perpisahan tidak jauh-jauh dari tangisan. Siapa yang pernah siap untuk ditinggalkan, meninggalkan, ataupun dipisahkan? Sekalipun jauh-jauh hari diberi kabar bahwa seseorang akan pergi, mungkin saya akan melakukan persiapan, yang sebenarnya tidak pernah siap.
Ehm... begini, saya pernah mencintai seseorang, tiada hari tanpa mencintainya, tiada spasi untuk merindukannya. Sejak pertama kali hati saya jatuh padanya, saat itulah saya memberikan seluruh dunia dan harapan saya. Dan saat itu juga saya mengerti jika jalan cerita bahkan akhir kisah ini tidak sesuai harapan saya.
Dan beberapa waktu yang lalu, saya berhenti untuk segala yang pernah saya terima untuk memulainya, saya berhenti untuk segala senang dan lara yang pernah dijalin bersama, saya berhenti karena harus.
Bukan karena saya tidak lagi mencintainya ataupun bosan dengan kehadirannya. Tapi, beberapa hal membuat saya tidak bisa memaksakan untuk tetap bersanding, saya tidak perlu memberitahumu sebab apa itu.
Perasaan itu tulus, begitu tulus. Saya cinta dia, entah seberapa besarnya, saya tidak bisa mengukurnya. Intinya, saya mencintainya seperti hujan yang tetap mencintai tanah meskipun jatuh berkali-kali, seperti air yang tidak akan pernah habis meski dikuras tanpa henti, dan seperti bintang yang membutuhkan gelap agar dia terlihat bersinar.
Tidak pernah ada orang yang berharap menyakiti ketika benar-benar mencintai. Tidak pernah ada. Orang yang mencintai dengan tulus, akan selalu menjaga hati, berhenti mencari, selalu merasa cukup dengan hadirnya orang yang dicintai. Orang yang mencintai dengan tulus, selalu takut untuk menyakiti, bahkan ketika dia melakukan hal itu, yang dia lakukan pertama kali adalah menyalahkan diri sendiri.
Ketahuilah, saya tidak pernah ingin memberi luka. Saya juga merasa sakit ketika saya tanpa sengaja menyakiti. Namun, pada dasarnya cinta harus berani jatuh. Semua yang saya lakukan tidak jauh-jauh dari yang sebenarnya saya rasakan. Hati saya jauh lebih tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Perasaan saya lebih mengerti saya daripada diri saya sendiri.
Saya hanya mencoba jujur. Mengakhiri cerita yang sebenarnya tidak bisa diteruskan hingga berlangsung lama. Bukankah terkadang yang singkat yang paling bermakna? Jika kau berfikir kenapa tulusku menyakitimu. Justru itu. Justru yang tulus harus menerima. Tapi, bukan berarti semena-mena.
Menerima apapun yang terjadi di hidupmu maupun hidupnya. Karena, dengan kau bersikap seakan tidak lagi suka dia, tidak akan membuatmu lebih bahagia. Terima dan ikhlas, kau akan mengetahui bagaimana indahnya.
Masing-masing dari mereka yang dipisahkan, hanya perlu saling mengikhlaskan, yang pada dasarnya membuat diri lebih tenang daripada melupakan. Rasanya memang hampir putus asa waktu itu. Saya tahu bagaimana rasanya, karena perpisahan kerap terjadi di hidup saya. Semua usaha yang saya lakukan dari nol, tidak memiliki hasil apa-apa, tapi tidak terasa sia-sia. Apalagi merasa menyesal, hanya saja saya menyayangkan. Kenapa akhir cerita tidak pernah ada yang bahagia?
Hingga pada akhirnya, saya terbangun di suatu pagi. Di suatu desa yang saya cintai karena kesunyiannya, di tempat yang lebih baik dari kota. Di tempat yang selalu mampu membuat saya menjadi diri sendiri. Tidak ada teman, kecuali hening dan diksi. Dan di jalanan berbatu, melalui sawah-ladang, saya merenung. Mengingat percakapan dan pertemuan dengan setiap orang di hidup saya yang akhirnya perlahan pergi.
Bukan hal yang asing lagi jika perpisahan tidak jauh-jauh dari tangisan. Siapa yang pernah siap untuk ditinggalkan, meninggalkan, ataupun dipisahkan? Sekalipun jauh-jauh hari diberi kabar bahwa seseorang akan pergi, mungkin saya akan melakukan persiapan, yang sebenarnya tidak pernah siap.
Ehm... begini, saya pernah mencintai seseorang, tiada hari tanpa mencintainya, tiada spasi untuk merindukannya. Sejak pertama kali hati saya jatuh padanya, saat itulah saya memberikan seluruh dunia dan harapan saya. Dan saat itu juga saya mengerti jika jalan cerita bahkan akhir kisah ini tidak sesuai harapan saya.
Dan beberapa waktu yang lalu, saya berhenti untuk segala yang pernah saya terima untuk memulainya, saya berhenti untuk segala senang dan lara yang pernah dijalin bersama, saya berhenti karena harus.
Bukan karena saya tidak lagi mencintainya ataupun bosan dengan kehadirannya. Tapi, beberapa hal membuat saya tidak bisa memaksakan untuk tetap bersanding, saya tidak perlu memberitahumu sebab apa itu.
Perasaan itu tulus, begitu tulus. Saya cinta dia, entah seberapa besarnya, saya tidak bisa mengukurnya. Intinya, saya mencintainya seperti hujan yang tetap mencintai tanah meskipun jatuh berkali-kali, seperti air yang tidak akan pernah habis meski dikuras tanpa henti, dan seperti bintang yang membutuhkan gelap agar dia terlihat bersinar.
Tidak pernah ada orang yang berharap menyakiti ketika benar-benar mencintai. Tidak pernah ada. Orang yang mencintai dengan tulus, akan selalu menjaga hati, berhenti mencari, selalu merasa cukup dengan hadirnya orang yang dicintai. Orang yang mencintai dengan tulus, selalu takut untuk menyakiti, bahkan ketika dia melakukan hal itu, yang dia lakukan pertama kali adalah menyalahkan diri sendiri.
Ketahuilah, saya tidak pernah ingin memberi luka. Saya juga merasa sakit ketika saya tanpa sengaja menyakiti. Namun, pada dasarnya cinta harus berani jatuh. Semua yang saya lakukan tidak jauh-jauh dari yang sebenarnya saya rasakan. Hati saya jauh lebih tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Perasaan saya lebih mengerti saya daripada diri saya sendiri.
Saya hanya mencoba jujur. Mengakhiri cerita yang sebenarnya tidak bisa diteruskan hingga berlangsung lama. Bukankah terkadang yang singkat yang paling bermakna? Jika kau berfikir kenapa tulusku menyakitimu. Justru itu. Justru yang tulus harus menerima. Tapi, bukan berarti semena-mena.
Menerima apapun yang terjadi di hidupmu maupun hidupnya. Karena, dengan kau bersikap seakan tidak lagi suka dia, tidak akan membuatmu lebih bahagia. Terima dan ikhlas, kau akan mengetahui bagaimana indahnya.
Komentar
Posting Komentar