Langsung ke konten utama

Seorang Perempuan dan Perasaannya

Pada akhirnya, manusia dipertemukan untuk kembali dipisahkan. Kembali diajarkan untuk mengikhlaskan. Menghilangkan segala hal yang pernah terjadi, dan melupakan? Saya rasa yang satu itu tidak perlu. Karena menurut saya, melupakan hanyalah angan yang tidak pernah menjadi kenyataan. Mereka yang pernah bersama, tidak akan lagi melakukan sesuatu yang selama ini sudah menjadi kebiasaan, perlu menempuh perjalanan panjang, berkali-kali mencoba bangkit ketika terjatuh.

Masing-masing dari mereka yang dipisahkan, hanya perlu saling mengikhlaskan, yang pada dasarnya membuat diri lebih tenang daripada melupakan. Rasanya memang hampir putus asa waktu itu. Saya tahu bagaimana rasanya, karena perpisahan kerap terjadi di hidup saya. Semua usaha yang saya lakukan dari nol, tidak memiliki hasil apa-apa, tapi tidak terasa sia-sia. Apalagi merasa menyesal, hanya saja saya menyayangkan. Kenapa akhir cerita tidak pernah ada yang bahagia?

Hingga pada akhirnya, saya terbangun di suatu pagi. Di suatu desa yang saya cintai karena kesunyiannya, di tempat yang lebih baik dari kota. Di tempat yang selalu mampu membuat saya menjadi diri sendiri. Tidak ada teman, kecuali hening dan diksi. Dan di jalanan berbatu, melalui sawah-ladang, saya merenung. Mengingat percakapan dan pertemuan dengan setiap orang di hidup saya yang akhirnya perlahan pergi.

Bukan hal yang asing lagi jika perpisahan tidak jauh-jauh dari tangisan. Siapa yang pernah siap untuk ditinggalkan, meninggalkan, ataupun dipisahkan? Sekalipun jauh-jauh hari diberi kabar bahwa seseorang akan pergi, mungkin saya akan melakukan persiapan, yang sebenarnya tidak pernah siap.


Ehm... begini, saya pernah mencintai seseorang, tiada hari tanpa mencintainya, tiada spasi untuk merindukannya. Sejak pertama kali hati saya jatuh padanya, saat itulah saya memberikan seluruh dunia dan harapan saya. Dan saat itu juga saya mengerti jika jalan cerita bahkan akhir kisah ini tidak sesuai harapan saya.

Dan beberapa waktu yang lalu, saya berhenti untuk segala yang pernah saya terima untuk memulainya, saya berhenti untuk segala senang dan lara yang pernah dijalin bersama, saya berhenti karena harus.

Bukan karena saya tidak lagi mencintainya ataupun bosan dengan kehadirannya. Tapi, beberapa hal membuat saya tidak bisa memaksakan untuk tetap bersanding, saya tidak perlu memberitahumu sebab apa itu.

Perasaan itu tulus, begitu tulus. Saya cinta dia, entah seberapa besarnya, saya tidak bisa mengukurnya. Intinya, saya mencintainya seperti hujan yang tetap mencintai tanah meskipun jatuh berkali-kali, seperti air yang tidak akan pernah habis meski dikuras tanpa henti, dan seperti bintang yang membutuhkan gelap agar dia terlihat bersinar.

Tidak pernah ada orang yang berharap menyakiti ketika benar-benar mencintai. Tidak pernah ada. Orang yang mencintai dengan tulus, akan selalu menjaga hati, berhenti mencari, selalu merasa cukup dengan hadirnya orang yang dicintai. Orang yang mencintai dengan tulus, selalu takut untuk menyakiti, bahkan ketika dia melakukan hal itu, yang dia lakukan pertama kali adalah menyalahkan diri sendiri.


Ketahuilah, saya tidak pernah ingin memberi luka. Saya juga merasa sakit ketika saya tanpa sengaja menyakiti. Namun, pada dasarnya cinta harus berani jatuh. Semua yang saya lakukan tidak jauh-jauh dari yang sebenarnya saya rasakan. Hati saya jauh lebih tahu apa yang sebenarnya saya inginkan. Perasaan saya lebih mengerti saya daripada diri saya sendiri.

Saya hanya mencoba jujur. Mengakhiri cerita yang sebenarnya tidak bisa diteruskan hingga berlangsung lama. Bukankah terkadang yang singkat yang paling bermakna? Jika kau berfikir kenapa tulusku menyakitimu. Justru itu. Justru yang tulus harus menerima. Tapi, bukan berarti semena-mena.

Menerima apapun yang terjadi di hidupmu maupun hidupnya. Karena, dengan kau bersikap seakan tidak lagi suka dia, tidak akan membuatmu lebih bahagia. Terima dan ikhlas, kau akan mengetahui bagaimana indahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do'a, Kita, dan Alam Raya

Tidak mampu kupercayai lebih dalam lagi, karena ini sudah cukup membuatku memahami. Perasaan ini tumbuh melebihi perkiraan awal yang kukira. Semakin tumbuh lebih, setiap harinya, setiap detik yang kulewatkan bersamanya, setiap bahagia yang tercipta, setiap mata dan senyumnya yang memantul dalam ingatan, setiap rasa sakit yang ada, setiap ingatan yang memenuhi pikiran bahkan alam bawah sadar. Semua itu menjadikan perasaanku yang kini tidak lagi memiliki kapasitas, tidak terbatas. Hingga lebihnya perasaan itu, tidak peduli sesakit apa rasanya terkhianati, sekecewa apapun dengannya, semenyakitkan apapun ketika dia bersama seseorang yang lain dibelakangku, aku selalu mampu menerimanya kembali tanpa memperdulikan rasa sakit yang tidak akan pernah pudar. Karena, sekali lagi, perasaan itu selalu mampu mengalahkan rasa sakit. Aku takut jika suatu saat nanti, bila waktunya telah selesai, aku tidak lagi bersamanya, lalu bagaimana rindu akan tersampaikan? Dimana aku bisa menemukan seseorang seper...

Same Heart

"Forcing the foot to walk away from the end of the story." "I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point." --- Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama. Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada. Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini. Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tep...

Hari Lahir

Hai, waktu begitu cepat berlalu ya. Sampai akhirnya semesta membawamu ke titik ini, titik dimana kau berhasil bertambah usia, detik yang kau pijak saat ini adalah bukti bahwa kau berhasil melewati semua perjalanan hidupmu. Kau berhasil melewati susah senangnya kehidupan, cerah peliknya perjalanan, kau hebat, kau luar biasa. Cobaan tidak membuatmu tumbang, kau selalu mampu bertahan, meskipun kau di titik diterendahmu. Aku senang, kau tidak pernah berfikir untuk benar-benar menyerah. Kau bersyukur untuk hidupmu. Kau memang tidak sempurna, begitu pula aku. Manusia diciptakan untuk memiliki kekurangan, karena itu mereka butuh untuk saling melengkapi. Terima kasih sudah ada, terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengisi duniaku, yang awalnya biasa menjadi lebih bermakna. Terima kasih telah membuatku mengerti apa arti kehidupan. Sudah menemaniku di setiap masalah dalam hidupku. Kau berharga, lebih dari yang kau tahu, aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mengetahui seberapa pent...