Tidak ada orang di dunia ini yang benar-benar bisa hidup tanpa teman. Saya pun terkadang berfikir, bagaimana ya ketika saya memilih waktu sendiri dalam jangka lama. Sepertinya terlihat mustahil, tapi entah mengapa, saya merasa suatu saat, entah berapa tahun lagi. Saya akan merasakan hidup dengan menghabiskan banyak waktu sendiri.
Waktu kecil, saya sering menghabiskan waktu di dalam rumah. Begitu suka sekali membuat khayalan, lalu ketika malam selalu menulis apa yang saya rasakan di hari itu. Tapi, bukan berarti tidak memiliki teman. Dulu, saya lebih banyak memiliki waktu untuk keluarga daripada teman sebaya. Iya, kawan, dunia kecil saya begitu banyak kasih sayang, pun sekarang.
Ketika itu, sejak masih awal masuk sekolah, teman dekat saya hanya dua, itupun laki-laki semua. Hingga saya memasuki tingkat sekolah yang lebih tinggi, saya merasa takut memiliki teman. Bahkan, dulu pernah berdoa kepada Tuhan agar punya teman yang bukan manusia, hanya karena saya membayangkan sulitnya mencari teman yang menerima apa adanya. Membayangkan saja sudah aneh.
Lalu, suatu hari saya memiliki teman-teman, kebanyakan laki-laki. Namanya juga masih kecil, juga sering bermain, bertengkar karena hal-hal kecil. Hingga pada akhirnya, ketika mulai beranjak dewasa, saat pertama kali mengenal apa itu jatuh cinta. Saya jatuh cinta kepada teman saya sendiri, tapi entah mendapat pikiran darimana, saya tidak ingin memiliki dia. Karena, saya membayangkan ketakutan dan kemungkinan ketika akhirnya kami tidak lagi sama setelah menjalin kisah. Saya lebih rela kehilangan perasaan saya daripada harus kehilangan teman saya sendiri.
Namun, saya tidak tahu apa yang direncanakan Semesta waktu itu. Ketika itu sehabis bermain, dia menyatakan perasaannya pada saya. Meminta saya untuk menjadi pemilik hatinya, saya yang waktu itu terlanjur senang pun langsung mengiyakan. Khayalan dan ketakutan yang saya bayangkan sebelumnya tidak melintas dipikiran saya waktu itu.
Setelah itu saya pulang. Ada perasaan sesak telah menerima, ada ketakutan yang membuncah, dan rasa kehilangan yang tidak ada habisnya. Tidak tahu bagaimana awalnya, perasaan itu tiba-tiba berkurang drastis, saya menangis. Begitu sulit memikirkan hal yang rumit.
Berhari-hari, berbulan-bulan, saya mencoba untuk kembali mengutuhkan rasa. Sekuat apapun saya mencoba, hasilnya tetap tidak ada. Lalu, dengan pikiran matang, saya mengatakan kepada dia, bahwa hubungan yang dijalani harus diakhiri. Saya terpaksa melakukan itu, karena saya tidak mau dia berjuang sendirian untuk waktu selanjutnya, saya tidak mau tetap bertahan ketika sebenarnya sudah menyerah karena rasa itu gagal saya utuhkan.
Kawan, saya terlalu takut dengan ketakutan itu, saya khawatir akan timbul kekhawatiran lainnya. Saya hanya menjaga apa yang dari dulu ada agar tetap sama, bukan mencari yang tidak ada ataupun menghilangkan yang ada. Tapi, yang namanya perpisahan, tak ada yang membahagiakan.
Saya merasa lebih bahagia pada akhirnya, karena setelah kisah itu terjadi. Saya dan dia tidak memendam benci, kami tetap menjadi teman baik seperti awal. Tidak ada rasa canggung, pun tidak ada rasa yang dulu pernah ada. Dan saya pun lebih bangga, dia kembali menemukan tempat singgahnya.
Sebenarnya saya juga tidak mau menyakiti siapapun, apalagi seseorang yang memiliki perasaan kepada saya namun saya tidak bisa memberi apa-apa. Tapi, saya juga tidak bisa memaksakan semuanya. Sebab itu, saya selalu nyaman mencintai sendirian.
Saya yang memang dari awal salah, saya menyia-nyiakan laki-laki baik. Tapi, tidak tahu mengapa, dia tetap sama, seperti dulu. Meskipun, saya pernah melukainya dengan parah. Entah hati seperti apa yang Tuhan berikan kepada dia.
Hanya saja, semakin beranjak dewasa, kami jarang bertemu. Karena saya dan dia berjarak cukup jauh. Kehidupan kami semakin banyak perubahan, namun pertemanan akan tetap bertahan. Begitupun teman-teman saya yang lain, kami semakin berjarak. Dan pertemuan penghapus rindu selalu dinantikan. Saya hanya kecewa dan tetap mencoba menerima ketika ternyata satu-persatu dari mereka melangkah jauh sebab keadaan, bukan keinginan. Rindu waktu dulu yang menghabiskan kebersamaan begitu lama.
Namun, waktu akan tetap selamanya berjalan. Dan saya tidak bisa menahan mereka untuk selalu di samping saya. Sebab mereka pun memiliki dunia mereka sendiri, yang tidak harus melulu tentang saya. Orang baru juga akan terus datang silih berganti di hidup kami. Semuanya tergantung diri sendiri bagaimana harus menyikapi. Menerima, meninggalkan, atau jatuh hati.
Waktu kecil, saya sering menghabiskan waktu di dalam rumah. Begitu suka sekali membuat khayalan, lalu ketika malam selalu menulis apa yang saya rasakan di hari itu. Tapi, bukan berarti tidak memiliki teman. Dulu, saya lebih banyak memiliki waktu untuk keluarga daripada teman sebaya. Iya, kawan, dunia kecil saya begitu banyak kasih sayang, pun sekarang.
Ketika itu, sejak masih awal masuk sekolah, teman dekat saya hanya dua, itupun laki-laki semua. Hingga saya memasuki tingkat sekolah yang lebih tinggi, saya merasa takut memiliki teman. Bahkan, dulu pernah berdoa kepada Tuhan agar punya teman yang bukan manusia, hanya karena saya membayangkan sulitnya mencari teman yang menerima apa adanya. Membayangkan saja sudah aneh.
Lalu, suatu hari saya memiliki teman-teman, kebanyakan laki-laki. Namanya juga masih kecil, juga sering bermain, bertengkar karena hal-hal kecil. Hingga pada akhirnya, ketika mulai beranjak dewasa, saat pertama kali mengenal apa itu jatuh cinta. Saya jatuh cinta kepada teman saya sendiri, tapi entah mendapat pikiran darimana, saya tidak ingin memiliki dia. Karena, saya membayangkan ketakutan dan kemungkinan ketika akhirnya kami tidak lagi sama setelah menjalin kisah. Saya lebih rela kehilangan perasaan saya daripada harus kehilangan teman saya sendiri.
Namun, saya tidak tahu apa yang direncanakan Semesta waktu itu. Ketika itu sehabis bermain, dia menyatakan perasaannya pada saya. Meminta saya untuk menjadi pemilik hatinya, saya yang waktu itu terlanjur senang pun langsung mengiyakan. Khayalan dan ketakutan yang saya bayangkan sebelumnya tidak melintas dipikiran saya waktu itu.
Setelah itu saya pulang. Ada perasaan sesak telah menerima, ada ketakutan yang membuncah, dan rasa kehilangan yang tidak ada habisnya. Tidak tahu bagaimana awalnya, perasaan itu tiba-tiba berkurang drastis, saya menangis. Begitu sulit memikirkan hal yang rumit.
Berhari-hari, berbulan-bulan, saya mencoba untuk kembali mengutuhkan rasa. Sekuat apapun saya mencoba, hasilnya tetap tidak ada. Lalu, dengan pikiran matang, saya mengatakan kepada dia, bahwa hubungan yang dijalani harus diakhiri. Saya terpaksa melakukan itu, karena saya tidak mau dia berjuang sendirian untuk waktu selanjutnya, saya tidak mau tetap bertahan ketika sebenarnya sudah menyerah karena rasa itu gagal saya utuhkan.
Kawan, saya terlalu takut dengan ketakutan itu, saya khawatir akan timbul kekhawatiran lainnya. Saya hanya menjaga apa yang dari dulu ada agar tetap sama, bukan mencari yang tidak ada ataupun menghilangkan yang ada. Tapi, yang namanya perpisahan, tak ada yang membahagiakan.
Saya merasa lebih bahagia pada akhirnya, karena setelah kisah itu terjadi. Saya dan dia tidak memendam benci, kami tetap menjadi teman baik seperti awal. Tidak ada rasa canggung, pun tidak ada rasa yang dulu pernah ada. Dan saya pun lebih bangga, dia kembali menemukan tempat singgahnya.
Sebenarnya saya juga tidak mau menyakiti siapapun, apalagi seseorang yang memiliki perasaan kepada saya namun saya tidak bisa memberi apa-apa. Tapi, saya juga tidak bisa memaksakan semuanya. Sebab itu, saya selalu nyaman mencintai sendirian.
Saya yang memang dari awal salah, saya menyia-nyiakan laki-laki baik. Tapi, tidak tahu mengapa, dia tetap sama, seperti dulu. Meskipun, saya pernah melukainya dengan parah. Entah hati seperti apa yang Tuhan berikan kepada dia.
Hanya saja, semakin beranjak dewasa, kami jarang bertemu. Karena saya dan dia berjarak cukup jauh. Kehidupan kami semakin banyak perubahan, namun pertemanan akan tetap bertahan. Begitupun teman-teman saya yang lain, kami semakin berjarak. Dan pertemuan penghapus rindu selalu dinantikan. Saya hanya kecewa dan tetap mencoba menerima ketika ternyata satu-persatu dari mereka melangkah jauh sebab keadaan, bukan keinginan. Rindu waktu dulu yang menghabiskan kebersamaan begitu lama.
Namun, waktu akan tetap selamanya berjalan. Dan saya tidak bisa menahan mereka untuk selalu di samping saya. Sebab mereka pun memiliki dunia mereka sendiri, yang tidak harus melulu tentang saya. Orang baru juga akan terus datang silih berganti di hidup kami. Semuanya tergantung diri sendiri bagaimana harus menyikapi. Menerima, meninggalkan, atau jatuh hati.
Komentar
Posting Komentar