maaf,
telah membuat semua berantakan
juga menghancurkan harapan
bahkan menghilangkan tujuan
terima kasih,
telah mengajari apa itu bertahan
membuatku merasakan indahnya kerinduan
dan menjadikanku bagian dari perjalanan
Segala tentangmu, masih tersimpan rapi dalam hati. Perasaanmu, adalah hal terindah yang pernah saya miliki. Kamu pernah menjadi alasan saya untuk tidak pernah bersedih, menahan rasa kecewa agar kita tetap baik-baik saja. Kamu pernah menjadi tempat nyaman ketika saya menumpahkan cerita yang menikam dada. Tanpa kamu mengatakan apa-apa, saya sudah merasa lega.
Tapi, ketika kamu tanpa sengaja melukai. Saya tidak pernah mampu menangis dihadapanmu. Yang saya lakukan hanyalah menahan nafas dan mencoba tetap tenang. Menyesakkan, memang. Dan ketika akhirnya saya menyuarakan tangis, pada akhirnya pun saya mencapai titik lelah menahan jutaan airmata, yang memaksa tumpah.
Saya mengira kamu sudah mengerti, tidak pernah ada kekasih yang tega menyalahkan pasangannya di depan umum. Begitu menyakitkan, ketika itu terjadi pada saya. Saya bahkan tidak bisa menjawab apa-apa, membiarkan diri saya ditelan jutaan rasa kecewa, membiarkan diri saya terlihat yang paling bersalah, membiarkan luka-luka baru bertahta. Agar kamu merasa lega.
rindu-rindu merengkuh
memaksa masuk dalam tubuh
genggammu kian teringat
nyaman pada sandaramu saat kuterlelap
bayang tentangmu masih terlihat
kenangan semakin pekat
menghirup asa ditelan kecewa
rasa yang semakin membuncah
mencoba mengakhiri asmara
sekian kali dan terakhir ini
aku memungut potongan indah saat bersamamu
menenggelamkan diri dalam matamu
tentram dalam sisa senyummu
bukannya apa,
aku hanya ingin menenangkan kisah yang sudah
ingin menentramkan jiwa kala kita telah berpisah
menghilangkan harap yang ingin mencintaimu sekali lagi
tapi, tenanglah, bersabarlah
aku akan kembali membawa semua itu pulang, kecuali kau
aku tak akan mengajak kembali
aku tetap berdoa, semoga saat kita bersua
kau akan tetap baik-baik saja
semoga kau tak ragu mencari pengganti
kau akan selalu kukenang dengan bahagia
tak akan rela jika saja dunia membuatku lupa
jika dahulu pernah bersama
takdir tak merestui kita bersama
lalu untuk apa tetap menjaga?
kita hanya perlu ikuti alurnya
itulah cara skenario Tuhan bekerja
Kamu pernah menjadi seseorang yang begitu saya cinta. Saya pernah begitu menjaga rasa, hingga akhirnya saya melepaskannya. Menuju ketiadaan. Terima kasih, karena kamu pernah begitu takut kehilangan saya, kamu melakukan apapun agar saya tetap disampingmu. Maaf, telah membuat kisah kita menemui perpisahan, hingga membuat kita kehilangan. Tapi, saya percaya, ada kehilangan yang tidak benar-benar pergi.
Kisah singkat yang sulit lepas. Sejak hari dimana kita melangkah pergi--tepatnya saya yang pergi. Saya melangkah, mencoba meninggalkan hati. Tapi, nyatanya susah sekali. Patah hati itu sempat membuat saya menunda mimpi. Tidak ada yang saya sesali. Meskipun memang begitu menyakitkan. Pada awalnya, saya menyalahkan takdir. Namun, saya kembali percaya bahwa yang terjadi dan apa yang saya alami, akan selalu menjadikan saya lebih baik lagi.
Tidak, saya tidak ingin memulai kisah yang sama sekali lagi...atau mungkin belum ingin? Tapi, tidak akan ada pengulangan. Tidak perlu mengulang untuk memperbaiki. Kita harus tetap berjalan ke depan, jangan pernah membenci masa lalu. Sebab, masa lalu yang akan menuntun kita lebih baik lagi. Terkadang kita memang perlu menoleh ke belakang, agar kita tidak lagi salah jalan dan pilihan.
Kamu, pasangan kisah saya yang menjadi bagian dari tujuan. Kamu, yang selalu mampu merubah suasana hati saya, itu yang saya sukai dari kamu. Kamu, yang semakin saya cintai sebab menyakitkannya kata-katamu. Kamu, yang selalu mampu menciptakan hal sederhana, itu istimewamu. Kelemahanmu yang membuat saya memilihmu. Dan kamulah, yang membuat saya khawatir untuk dicintai orang yang begitu membenci kehilangan. Itu dulu. Ketika segalanya masih utuh.
Meskipun kisah kita tidak bisa dibilang lama, setidaknya kita pernah singgah atas nama cinta. Saling memberi rindu pada tegukan rasa pertama. Setelah usainya kita. Tetap saya panjatkan doa-doa baik untukmu, selalu saya aminkan segala semogamu, apapun itu. Sekalipun doa buruk tentangku.
Bersamamu, membawa saya ke tempat paling indah yang mereka sebut bahagia. Segala tentangmu, kenangan bersamamu, akan tetap saya jaga. Terkunci rapi dalam hati. Saya tidak pernah berniat harus membuang bahkan membenci kenangan seperti kebanyakan orang. Sebab, kamu, kenangan, dan masa lalu memiliki makna yang berbeda untuk saya. Entah mengapa, kamu memilih saya untuk memiliki hatimu, yang bahkan akhirnya menyakitimu begitu pilu. Saya begitu sadar dengan setiap yang saya lakukan, semuanya atas kendali saya. Meskipun, sebelumnya harus menenangkan hati dan pikiran yang tidak sejalan.
malam lalu yang dirundung pilu
aku memilih untuk tak kau pilih
aku memutuskan pergi
maaf telah mengundang luka
semoga kau pun mengerti
bahwa pada akhirnya
memahami tanpa kembali difahami
mampu melukai hati
Tapi, bukankah kamu percaya bahwa tanpa saya hidupmu akan tetap indah? Saya begitu percaya, lebih dari yang kamu percayai waktu itu.
telah membuat semua berantakan
juga menghancurkan harapan
bahkan menghilangkan tujuan
terima kasih,
telah mengajari apa itu bertahan
membuatku merasakan indahnya kerinduan
dan menjadikanku bagian dari perjalanan
Segala tentangmu, masih tersimpan rapi dalam hati. Perasaanmu, adalah hal terindah yang pernah saya miliki. Kamu pernah menjadi alasan saya untuk tidak pernah bersedih, menahan rasa kecewa agar kita tetap baik-baik saja. Kamu pernah menjadi tempat nyaman ketika saya menumpahkan cerita yang menikam dada. Tanpa kamu mengatakan apa-apa, saya sudah merasa lega.
Tapi, ketika kamu tanpa sengaja melukai. Saya tidak pernah mampu menangis dihadapanmu. Yang saya lakukan hanyalah menahan nafas dan mencoba tetap tenang. Menyesakkan, memang. Dan ketika akhirnya saya menyuarakan tangis, pada akhirnya pun saya mencapai titik lelah menahan jutaan airmata, yang memaksa tumpah.
Saya mengira kamu sudah mengerti, tidak pernah ada kekasih yang tega menyalahkan pasangannya di depan umum. Begitu menyakitkan, ketika itu terjadi pada saya. Saya bahkan tidak bisa menjawab apa-apa, membiarkan diri saya ditelan jutaan rasa kecewa, membiarkan diri saya terlihat yang paling bersalah, membiarkan luka-luka baru bertahta. Agar kamu merasa lega.
rindu-rindu merengkuh
memaksa masuk dalam tubuh
genggammu kian teringat
nyaman pada sandaramu saat kuterlelap
bayang tentangmu masih terlihat
kenangan semakin pekat
menghirup asa ditelan kecewa
rasa yang semakin membuncah
mencoba mengakhiri asmara
sekian kali dan terakhir ini
aku memungut potongan indah saat bersamamu
menenggelamkan diri dalam matamu
tentram dalam sisa senyummu
bukannya apa,
aku hanya ingin menenangkan kisah yang sudah
ingin menentramkan jiwa kala kita telah berpisah
menghilangkan harap yang ingin mencintaimu sekali lagi
tapi, tenanglah, bersabarlah
aku akan kembali membawa semua itu pulang, kecuali kau
aku tak akan mengajak kembali
aku tetap berdoa, semoga saat kita bersua
kau akan tetap baik-baik saja
semoga kau tak ragu mencari pengganti
kau akan selalu kukenang dengan bahagia
tak akan rela jika saja dunia membuatku lupa
jika dahulu pernah bersama
takdir tak merestui kita bersama
lalu untuk apa tetap menjaga?
kita hanya perlu ikuti alurnya
itulah cara skenario Tuhan bekerja
Kamu pernah menjadi seseorang yang begitu saya cinta. Saya pernah begitu menjaga rasa, hingga akhirnya saya melepaskannya. Menuju ketiadaan. Terima kasih, karena kamu pernah begitu takut kehilangan saya, kamu melakukan apapun agar saya tetap disampingmu. Maaf, telah membuat kisah kita menemui perpisahan, hingga membuat kita kehilangan. Tapi, saya percaya, ada kehilangan yang tidak benar-benar pergi.
Kisah singkat yang sulit lepas. Sejak hari dimana kita melangkah pergi--tepatnya saya yang pergi. Saya melangkah, mencoba meninggalkan hati. Tapi, nyatanya susah sekali. Patah hati itu sempat membuat saya menunda mimpi. Tidak ada yang saya sesali. Meskipun memang begitu menyakitkan. Pada awalnya, saya menyalahkan takdir. Namun, saya kembali percaya bahwa yang terjadi dan apa yang saya alami, akan selalu menjadikan saya lebih baik lagi.
Tidak, saya tidak ingin memulai kisah yang sama sekali lagi...atau mungkin belum ingin? Tapi, tidak akan ada pengulangan. Tidak perlu mengulang untuk memperbaiki. Kita harus tetap berjalan ke depan, jangan pernah membenci masa lalu. Sebab, masa lalu yang akan menuntun kita lebih baik lagi. Terkadang kita memang perlu menoleh ke belakang, agar kita tidak lagi salah jalan dan pilihan.
Kamu, pasangan kisah saya yang menjadi bagian dari tujuan. Kamu, yang selalu mampu merubah suasana hati saya, itu yang saya sukai dari kamu. Kamu, yang semakin saya cintai sebab menyakitkannya kata-katamu. Kamu, yang selalu mampu menciptakan hal sederhana, itu istimewamu. Kelemahanmu yang membuat saya memilihmu. Dan kamulah, yang membuat saya khawatir untuk dicintai orang yang begitu membenci kehilangan. Itu dulu. Ketika segalanya masih utuh.
Meskipun kisah kita tidak bisa dibilang lama, setidaknya kita pernah singgah atas nama cinta. Saling memberi rindu pada tegukan rasa pertama. Setelah usainya kita. Tetap saya panjatkan doa-doa baik untukmu, selalu saya aminkan segala semogamu, apapun itu. Sekalipun doa buruk tentangku.
Bersamamu, membawa saya ke tempat paling indah yang mereka sebut bahagia. Segala tentangmu, kenangan bersamamu, akan tetap saya jaga. Terkunci rapi dalam hati. Saya tidak pernah berniat harus membuang bahkan membenci kenangan seperti kebanyakan orang. Sebab, kamu, kenangan, dan masa lalu memiliki makna yang berbeda untuk saya. Entah mengapa, kamu memilih saya untuk memiliki hatimu, yang bahkan akhirnya menyakitimu begitu pilu. Saya begitu sadar dengan setiap yang saya lakukan, semuanya atas kendali saya. Meskipun, sebelumnya harus menenangkan hati dan pikiran yang tidak sejalan.
malam lalu yang dirundung pilu
aku memilih untuk tak kau pilih
aku memutuskan pergi
maaf telah mengundang luka
semoga kau pun mengerti
bahwa pada akhirnya
memahami tanpa kembali difahami
mampu melukai hati
Tapi, bukankah kamu percaya bahwa tanpa saya hidupmu akan tetap indah? Saya begitu percaya, lebih dari yang kamu percayai waktu itu.
Komentar
Posting Komentar