Beberapa orang datang dalam hidupmu, memberikan suatu pelajaran lalu selanjutnya pergi. Dan kejadian seperti ini akan terus berulang sampai akhir hidup. Bagaimana sikapmu kepada mereka pun memang terserahmu, tapi mereka juga bisa memperlakukanmu terserah mereka.
Tidak semua teman memang bisa dianggap teman. Yang menjadikanmu seakan yang terbaik pun ternyata diam-diam ingin menjatuhkan hingga dasar. Bukannya bermaksud buruk, tapi kejadian seperti ini sering terjadi. Teman yang dibanggakan pun terkadang juga memendam hal buruk kepada dirimu. Tapi, tidak semua teman seperti itu.
Siapapun yang ingin berteman dengan saya, saya menerima. Namun, tidak semua orang di hidup saya menjadi tempat nyaman saya bercerita. Entah kenapa, terkadang susah sekali untuk bercerita kepada orang tertentu. Terkadang ingin, tapi tidak bisa. Memang rumit. Dan...saya memiliki seseorang yang memang berharga untuk saya, bersyukur bisa dipertemukan olehnya.
Seseorang itu memang tidak selalu ada, tidak selalu bisa mengerti saya, dan saya tidak masalah untuk itu. Karena, saya pun masih belajar memahami dia. Hidup kami hampir sama, terkadang itu yang membuat kami merasa bisa menjadi teman baik, tempat menumpahkan segala rasa dan cerita.
Dia tahu cara membuat saya lupa akan masalah walau sementara. Dia memberi saya arti, ketika mimpi gagal diraih, bukan berarti harus berhenti. Dia memang tidak mengatakan itu, tapi itu makna yang saya dapati ketika dia menyemangati saat saya jatuh. Dia seseorang yang membuat saya percaya jangan mudah membuang harapan selama itu masih dapat diperjuangkan. Banyak hal yang sebenarnya biasa, namun begitu berharga untuk saya. Hal-hal yang selalu dia lakukan, agar mampu membuat saya tertawa tanpa adanya pura-pura.
Ternyata begitu banyak cerita yang telah kami lewati--karena kami jarang punya waktu untuk bertukar cerita bersama. Saya hanya menaruh segala rahasia padanya, orang pertama yang saya ceritakan, orang yang sampai sekarang masih saya percaya.
Ketika itu, waktu sedang berdua dengannya. Saya sempat mencoba untuk tidak bercerita. Tapi, saya gagal. Saya gagal menyembunyikan semuanya waktu matanya menatap mata saya. Pada akhirnya pun saya bercerita, saya tahu, kelemahan saya ada padanya.
Sebelumnya, saya pernah memiliki teman seperti dia, hanya saja itu berjalan selama satu tahun kami menjadi teman dekat. Dua tahun kemudian, tepatnya satu tahun yang lalu. Saya seperti menemukan kembali teman lama saya dalam dirinya. Namun, bukan sebab itu sekarang saya memilih berteman dengannya. Saya berteman dengannya, sebab kami dipertemukan.
Tidak semua teman memang bisa dianggap teman. Yang menjadikanmu seakan yang terbaik pun ternyata diam-diam ingin menjatuhkan hingga dasar. Bukannya bermaksud buruk, tapi kejadian seperti ini sering terjadi. Teman yang dibanggakan pun terkadang juga memendam hal buruk kepada dirimu. Tapi, tidak semua teman seperti itu.
Siapapun yang ingin berteman dengan saya, saya menerima. Namun, tidak semua orang di hidup saya menjadi tempat nyaman saya bercerita. Entah kenapa, terkadang susah sekali untuk bercerita kepada orang tertentu. Terkadang ingin, tapi tidak bisa. Memang rumit. Dan...saya memiliki seseorang yang memang berharga untuk saya, bersyukur bisa dipertemukan olehnya.
Seseorang itu memang tidak selalu ada, tidak selalu bisa mengerti saya, dan saya tidak masalah untuk itu. Karena, saya pun masih belajar memahami dia. Hidup kami hampir sama, terkadang itu yang membuat kami merasa bisa menjadi teman baik, tempat menumpahkan segala rasa dan cerita.
Dia tahu cara membuat saya lupa akan masalah walau sementara. Dia memberi saya arti, ketika mimpi gagal diraih, bukan berarti harus berhenti. Dia memang tidak mengatakan itu, tapi itu makna yang saya dapati ketika dia menyemangati saat saya jatuh. Dia seseorang yang membuat saya percaya jangan mudah membuang harapan selama itu masih dapat diperjuangkan. Banyak hal yang sebenarnya biasa, namun begitu berharga untuk saya. Hal-hal yang selalu dia lakukan, agar mampu membuat saya tertawa tanpa adanya pura-pura.
Ternyata begitu banyak cerita yang telah kami lewati--karena kami jarang punya waktu untuk bertukar cerita bersama. Saya hanya menaruh segala rahasia padanya, orang pertama yang saya ceritakan, orang yang sampai sekarang masih saya percaya.
Ketika itu, waktu sedang berdua dengannya. Saya sempat mencoba untuk tidak bercerita. Tapi, saya gagal. Saya gagal menyembunyikan semuanya waktu matanya menatap mata saya. Pada akhirnya pun saya bercerita, saya tahu, kelemahan saya ada padanya.
Sebelumnya, saya pernah memiliki teman seperti dia, hanya saja itu berjalan selama satu tahun kami menjadi teman dekat. Dua tahun kemudian, tepatnya satu tahun yang lalu. Saya seperti menemukan kembali teman lama saya dalam dirinya. Namun, bukan sebab itu sekarang saya memilih berteman dengannya. Saya berteman dengannya, sebab kami dipertemukan.
Komentar
Posting Komentar