Langsung ke konten utama

Teman Baik

Beberapa orang datang dalam hidupmu, memberikan suatu pelajaran lalu selanjutnya pergi. Dan kejadian seperti ini akan terus berulang sampai akhir hidup. Bagaimana sikapmu kepada mereka pun memang terserahmu, tapi mereka juga bisa memperlakukanmu terserah mereka.

Tidak semua teman memang bisa dianggap teman. Yang menjadikanmu seakan yang terbaik pun ternyata diam-diam ingin menjatuhkan hingga dasar. Bukannya bermaksud buruk, tapi kejadian seperti ini sering terjadi. Teman yang  dibanggakan pun terkadang juga memendam hal buruk kepada dirimu. Tapi, tidak semua teman seperti itu.

Siapapun yang ingin berteman dengan saya, saya menerima. Namun, tidak semua orang di hidup saya menjadi tempat nyaman saya bercerita. Entah kenapa, terkadang susah sekali untuk bercerita kepada orang tertentu. Terkadang ingin, tapi tidak bisa. Memang rumit. Dan...saya memiliki seseorang yang memang berharga untuk saya, bersyukur bisa dipertemukan olehnya.

Seseorang itu memang tidak selalu ada, tidak selalu bisa mengerti saya, dan saya tidak masalah untuk itu. Karena, saya pun masih belajar memahami dia. Hidup kami hampir sama, terkadang itu yang membuat kami merasa bisa menjadi teman baik, tempat menumpahkan segala rasa dan cerita.

Dia tahu cara membuat saya lupa akan masalah walau sementara. Dia memberi saya arti, ketika mimpi gagal diraih, bukan berarti harus berhenti. Dia memang tidak mengatakan itu, tapi itu makna yang saya dapati ketika dia menyemangati saat saya jatuh. Dia seseorang yang membuat saya percaya jangan mudah membuang harapan selama itu masih dapat diperjuangkan. Banyak hal yang sebenarnya biasa, namun begitu berharga untuk saya. Hal-hal yang selalu dia lakukan, agar mampu membuat saya tertawa tanpa adanya pura-pura.

Ternyata begitu banyak cerita yang telah kami lewati--karena kami jarang punya waktu untuk bertukar cerita bersama. Saya hanya menaruh segala rahasia padanya, orang pertama yang saya ceritakan, orang yang sampai sekarang masih saya percaya.

Ketika itu, waktu sedang berdua dengannya. Saya sempat mencoba untuk tidak bercerita. Tapi, saya gagal. Saya gagal menyembunyikan semuanya waktu matanya menatap mata saya. Pada akhirnya pun saya bercerita, saya tahu, kelemahan saya ada padanya.

Sebelumnya, saya pernah memiliki teman seperti dia, hanya saja itu berjalan selama satu tahun kami menjadi teman dekat. Dua tahun kemudian, tepatnya satu tahun yang lalu. Saya seperti menemukan kembali teman lama saya dalam dirinya. Namun, bukan sebab itu sekarang saya memilih berteman dengannya. Saya berteman dengannya, sebab kami dipertemukan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do'a, Kita, dan Alam Raya

Tidak mampu kupercayai lebih dalam lagi, karena ini sudah cukup membuatku memahami. Perasaan ini tumbuh melebihi perkiraan awal yang kukira. Semakin tumbuh lebih, setiap harinya, setiap detik yang kulewatkan bersamanya, setiap bahagia yang tercipta, setiap mata dan senyumnya yang memantul dalam ingatan, setiap rasa sakit yang ada, setiap ingatan yang memenuhi pikiran bahkan alam bawah sadar. Semua itu menjadikan perasaanku yang kini tidak lagi memiliki kapasitas, tidak terbatas. Hingga lebihnya perasaan itu, tidak peduli sesakit apa rasanya terkhianati, sekecewa apapun dengannya, semenyakitkan apapun ketika dia bersama seseorang yang lain dibelakangku, aku selalu mampu menerimanya kembali tanpa memperdulikan rasa sakit yang tidak akan pernah pudar. Karena, sekali lagi, perasaan itu selalu mampu mengalahkan rasa sakit. Aku takut jika suatu saat nanti, bila waktunya telah selesai, aku tidak lagi bersamanya, lalu bagaimana rindu akan tersampaikan? Dimana aku bisa menemukan seseorang seper...

Same Heart

"Forcing the foot to walk away from the end of the story." "I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point." --- Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama. Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada. Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini. Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tep...

Hari Lahir

Hai, waktu begitu cepat berlalu ya. Sampai akhirnya semesta membawamu ke titik ini, titik dimana kau berhasil bertambah usia, detik yang kau pijak saat ini adalah bukti bahwa kau berhasil melewati semua perjalanan hidupmu. Kau berhasil melewati susah senangnya kehidupan, cerah peliknya perjalanan, kau hebat, kau luar biasa. Cobaan tidak membuatmu tumbang, kau selalu mampu bertahan, meskipun kau di titik diterendahmu. Aku senang, kau tidak pernah berfikir untuk benar-benar menyerah. Kau bersyukur untuk hidupmu. Kau memang tidak sempurna, begitu pula aku. Manusia diciptakan untuk memiliki kekurangan, karena itu mereka butuh untuk saling melengkapi. Terima kasih sudah ada, terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengisi duniaku, yang awalnya biasa menjadi lebih bermakna. Terima kasih telah membuatku mengerti apa arti kehidupan. Sudah menemaniku di setiap masalah dalam hidupku. Kau berharga, lebih dari yang kau tahu, aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mengetahui seberapa pent...