Meskipun sudah begitu sering menemui kehilangan, rasanya akan tetap selalu menakutkan. Kehilangan tidak pernah bisa berteman baik dengan saya, walaupun terlebih dulu memberi aba-aba.
Tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali dan akhirnya pun tetap membuat saya semakin sakit. Ketika saya kehilangan seseorang, saat itu juga pikiran apapun selalu mendatangi saya. Rasa takut kehilangan semakin terasa. Banyak hal yang saya pikirkan. Bagaimana jika saya kembali kehilangan seseorang yang berhasil membuat saya merasa berarti? Saya begitu takut membayangkan, bagaimana jika satu-persatu dari mereka pergi. Lalu, tidak lagi melakukan hal-hal yang mampu menangkis sedih.
Saya pernah berada di titik menyakitkan merasakan kehilangan. Saya kehilangan seorang teman, selamanya. Ketika diberi kabar bahwa ia tidak ada, saya tidak ingin mempercayai kebenaran yang ada. Bahkan sampai saya melihatnya menyatu dengan tanah, seakan rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin secepat ini. Saya hanya mencoba ikhlas, saya menyayanginya, dia harus tenang dan bahagia.
Lalu, saya juga pernah kehilangan seseorang ketika saya belum mengerti apa itu kehilangan. Menyakitkan sekali rasanya. Tapi, orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk menahan sesuatu yang harus pergi. Mereka yang selalu membantu saya untuk mengikhlaskan, dan ketakutan berlebihan kembali terasa. Dan juga, orang tua saya tidak pernah meminta saya untuk menjadi juara ataupun memiliki prestasi melimpah. Mereka mengorbankan banyak hal, saya menyayangi ibu dan ayah, saya menyayangi mama, pun ingin bertemu dengan papa. Karena itu, saya ingin mereka hidup lebih lama.
Kematian adalah hal yang paling menakutkan dalam hidup saya. Andai saja bisa memilih, saya tidak ingin berada di posisi harus merelakan. Tapi, bagaimanapun semuanya berjalan sesuai takdir. Semua hal bisa dirubah, termasuk takdir. Namun, tidak dengan kematian.
Kawan, hidup saya tidak selalu berbahagia. Saya harus terpuruk untuk kembali menjadi lebih kuat. Sudah, sampai sini saja. Saya kira berbagi cerita sekarang akan melegakan, namun sekarang terasa semakin menyesakkan. Sepertinya, saya memilih waktu yang tidak tepat. Lalu, mengapa saya menulis ini? Seperti kata Paulo Cuelho, air mata adalah kata-kata yang harus ditulis.
Tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali dan akhirnya pun tetap membuat saya semakin sakit. Ketika saya kehilangan seseorang, saat itu juga pikiran apapun selalu mendatangi saya. Rasa takut kehilangan semakin terasa. Banyak hal yang saya pikirkan. Bagaimana jika saya kembali kehilangan seseorang yang berhasil membuat saya merasa berarti? Saya begitu takut membayangkan, bagaimana jika satu-persatu dari mereka pergi. Lalu, tidak lagi melakukan hal-hal yang mampu menangkis sedih.
Saya pernah berada di titik menyakitkan merasakan kehilangan. Saya kehilangan seorang teman, selamanya. Ketika diberi kabar bahwa ia tidak ada, saya tidak ingin mempercayai kebenaran yang ada. Bahkan sampai saya melihatnya menyatu dengan tanah, seakan rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin secepat ini. Saya hanya mencoba ikhlas, saya menyayanginya, dia harus tenang dan bahagia.
Lalu, saya juga pernah kehilangan seseorang ketika saya belum mengerti apa itu kehilangan. Menyakitkan sekali rasanya. Tapi, orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk menahan sesuatu yang harus pergi. Mereka yang selalu membantu saya untuk mengikhlaskan, dan ketakutan berlebihan kembali terasa. Dan juga, orang tua saya tidak pernah meminta saya untuk menjadi juara ataupun memiliki prestasi melimpah. Mereka mengorbankan banyak hal, saya menyayangi ibu dan ayah, saya menyayangi mama, pun ingin bertemu dengan papa. Karena itu, saya ingin mereka hidup lebih lama.
Kematian adalah hal yang paling menakutkan dalam hidup saya. Andai saja bisa memilih, saya tidak ingin berada di posisi harus merelakan. Tapi, bagaimanapun semuanya berjalan sesuai takdir. Semua hal bisa dirubah, termasuk takdir. Namun, tidak dengan kematian.
Kawan, hidup saya tidak selalu berbahagia. Saya harus terpuruk untuk kembali menjadi lebih kuat. Sudah, sampai sini saja. Saya kira berbagi cerita sekarang akan melegakan, namun sekarang terasa semakin menyesakkan. Sepertinya, saya memilih waktu yang tidak tepat. Lalu, mengapa saya menulis ini? Seperti kata Paulo Cuelho, air mata adalah kata-kata yang harus ditulis.
Komentar
Posting Komentar