Langsung ke konten utama

Kehilangan

Meskipun sudah begitu sering menemui kehilangan, rasanya akan tetap selalu menakutkan. Kehilangan tidak pernah bisa berteman baik dengan saya, walaupun terlebih dulu memberi aba-aba.

Tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali dan akhirnya pun tetap membuat saya semakin sakit. Ketika saya kehilangan seseorang, saat itu juga pikiran apapun selalu mendatangi saya. Rasa takut kehilangan semakin terasa. Banyak hal yang saya pikirkan. Bagaimana jika saya kembali kehilangan seseorang yang berhasil membuat saya merasa berarti? Saya begitu takut membayangkan, bagaimana jika satu-persatu dari mereka pergi. Lalu, tidak lagi melakukan hal-hal yang mampu menangkis sedih.

Saya pernah berada di titik menyakitkan merasakan kehilangan. Saya kehilangan seorang teman, selamanya. Ketika diberi kabar bahwa ia tidak ada, saya tidak ingin mempercayai kebenaran yang ada. Bahkan sampai saya melihatnya menyatu dengan tanah, seakan rasanya tidak mungkin. Tidak mungkin secepat ini. Saya hanya mencoba ikhlas, saya menyayanginya, dia harus tenang dan bahagia.

Lalu, saya juga pernah kehilangan seseorang ketika saya belum mengerti apa itu kehilangan. Menyakitkan sekali rasanya. Tapi, orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk menahan sesuatu yang harus pergi. Mereka yang selalu membantu saya untuk mengikhlaskan, dan ketakutan berlebihan kembali terasa. Dan juga, orang tua saya tidak pernah meminta saya untuk menjadi juara ataupun memiliki prestasi melimpah. Mereka mengorbankan banyak hal, saya menyayangi ibu dan ayah, saya menyayangi mama, pun ingin bertemu dengan papa. Karena itu, saya ingin mereka hidup lebih lama.

Kematian adalah hal yang paling menakutkan dalam hidup saya. Andai saja bisa memilih, saya tidak ingin berada di posisi harus merelakan. Tapi, bagaimanapun semuanya berjalan sesuai takdir. Semua hal bisa dirubah, termasuk takdir. Namun, tidak dengan kematian.

Kawan, hidup saya tidak selalu berbahagia. Saya harus terpuruk untuk kembali menjadi lebih kuat. Sudah, sampai sini saja. Saya kira berbagi cerita sekarang akan melegakan, namun sekarang terasa semakin menyesakkan. Sepertinya, saya memilih waktu yang tidak tepat. Lalu, mengapa saya menulis ini? Seperti kata Paulo Cuelho, air mata adalah kata-kata yang harus ditulis.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do'a, Kita, dan Alam Raya

Tidak mampu kupercayai lebih dalam lagi, karena ini sudah cukup membuatku memahami. Perasaan ini tumbuh melebihi perkiraan awal yang kukira. Semakin tumbuh lebih, setiap harinya, setiap detik yang kulewatkan bersamanya, setiap bahagia yang tercipta, setiap mata dan senyumnya yang memantul dalam ingatan, setiap rasa sakit yang ada, setiap ingatan yang memenuhi pikiran bahkan alam bawah sadar. Semua itu menjadikan perasaanku yang kini tidak lagi memiliki kapasitas, tidak terbatas. Hingga lebihnya perasaan itu, tidak peduli sesakit apa rasanya terkhianati, sekecewa apapun dengannya, semenyakitkan apapun ketika dia bersama seseorang yang lain dibelakangku, aku selalu mampu menerimanya kembali tanpa memperdulikan rasa sakit yang tidak akan pernah pudar. Karena, sekali lagi, perasaan itu selalu mampu mengalahkan rasa sakit. Aku takut jika suatu saat nanti, bila waktunya telah selesai, aku tidak lagi bersamanya, lalu bagaimana rindu akan tersampaikan? Dimana aku bisa menemukan seseorang seper...

Same Heart

"Forcing the foot to walk away from the end of the story." "I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point." --- Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama. Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada. Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini. Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tep...

Hari Lahir

Hai, waktu begitu cepat berlalu ya. Sampai akhirnya semesta membawamu ke titik ini, titik dimana kau berhasil bertambah usia, detik yang kau pijak saat ini adalah bukti bahwa kau berhasil melewati semua perjalanan hidupmu. Kau berhasil melewati susah senangnya kehidupan, cerah peliknya perjalanan, kau hebat, kau luar biasa. Cobaan tidak membuatmu tumbang, kau selalu mampu bertahan, meskipun kau di titik diterendahmu. Aku senang, kau tidak pernah berfikir untuk benar-benar menyerah. Kau bersyukur untuk hidupmu. Kau memang tidak sempurna, begitu pula aku. Manusia diciptakan untuk memiliki kekurangan, karena itu mereka butuh untuk saling melengkapi. Terima kasih sudah ada, terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengisi duniaku, yang awalnya biasa menjadi lebih bermakna. Terima kasih telah membuatku mengerti apa arti kehidupan. Sudah menemaniku di setiap masalah dalam hidupku. Kau berharga, lebih dari yang kau tahu, aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mengetahui seberapa pent...