Langsung ke konten utama

Kau Tahu Apa yang Abadi di Bumi

Tidak ada yang sempurna di bumi, tapi kita bisa memilih apa yang akan abadi di dunia ini.

Entah apa yang direncanakan semesta untukku. Perasaanku kali ini tidak baik-baik saja. Bukan karena terluka. Tapi semenjak genggamnya kembali terasa, perasaan ini semakin tidak karuan. Tidak bisa dijelaskan bagaimana rasanya. Ada bahagia, pun ingin menangis. Dan tidak akan bisa dipungkiri, rasa nyaman selalu mampu membuat bahagia, rasa nyaman itu masih ada dan tetap terasa sama.

Semesta, meskipun kau mengizinkan dan selalu membiarkan aku untuk mencintai sekali lagi. Aku tidak akan pernah kembali kepadanya, kau pun menolak bila aku melakukan itu, bukan? Biarkan saja perasaan ini menetap pada tempatnya, pada tempat yang berharga dalam hati. Akan kujaga tanpa harus kembali menyambung kisah.

Pada suatu perjalanan, genggaman itu... kembali membuatku merasakan takut kehilangan. Namun, kali ini entah mengapa, rasa takut kehilangan itu semakin parah dari yang pernah aku rasakan sebelumnya. Semesta, ada apa? Bukankah aku sudah kehilangannya sejak lama? Sejak aku yang memutuskan untuk berpisah dengannya. Mungkin hampir setengah tahun kisahku berakhir, namun perasaan tidak menunjukkan tanda ingin mati.

Aku tidak mau berkata bahwa perasaan ini akan abadi. Tidak. Kita akan tahu, kita akan memilih apa yang abadi di bumi. Namun, perasaan ini tidak akan kupilih untuk menjadi sesuatu yang abadi, aku tidak bisa terus memaksa menyimpan perasaan ini tanpa berani melangkah. Terkadang perasaan ini membuatku takut untuk memiliki harapan baru.  Kalian tahu mengapa? Keraguan. Iya, aku ragu. Aku ragu bila aku tidak bisa menemukan bahagiaku, aku ragu bila aku bisa kembali bahagia.

Tapi, keraguan itu tidak akan mampu membuatku baik-baik saja. Karena itu aku harus berani memutuskan, kita tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri, kita harus adil dengan hati.

Aku kembali menangis. Bukan karena terluka. Namun sadar, bahwa apa yang telah dilepaskan tidak akan bisa kembali pada genggaman.

Tidak apa-apa, segalanya akan membaik. Aku harus bisa tanpamu, aku harus bisa mengendalikan hati dan pikiranku ketika kenangan tentangmu kembali teringat.

Terima kasih pernah hadir dan tidak memilih kembali.

Dulu, aku pernah meminta kala... 

Waktu aku sendiri dan dikerubung sunyi
Bayangmu tiba-tiba menghampiri

Sepi tidak lagi terasa hening
Kala ingatan bersamamu berdatangan
Lalu hatiku berserakan

Dan yang kuharapkan
Kepingan hatiku berada di tengan jalan raya
Menunggu kendaraan melindasnya hingga hancur
Meleburkan yang hancur

Dan akhirnya, hilang... 

Tapi, nyatanya, sekarang, aku lebih memilih menyimpan dalam-dalam dengan baik kenangan bersamamu. Selamat malam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Do'a, Kita, dan Alam Raya

Tidak mampu kupercayai lebih dalam lagi, karena ini sudah cukup membuatku memahami. Perasaan ini tumbuh melebihi perkiraan awal yang kukira. Semakin tumbuh lebih, setiap harinya, setiap detik yang kulewatkan bersamanya, setiap bahagia yang tercipta, setiap mata dan senyumnya yang memantul dalam ingatan, setiap rasa sakit yang ada, setiap ingatan yang memenuhi pikiran bahkan alam bawah sadar. Semua itu menjadikan perasaanku yang kini tidak lagi memiliki kapasitas, tidak terbatas. Hingga lebihnya perasaan itu, tidak peduli sesakit apa rasanya terkhianati, sekecewa apapun dengannya, semenyakitkan apapun ketika dia bersama seseorang yang lain dibelakangku, aku selalu mampu menerimanya kembali tanpa memperdulikan rasa sakit yang tidak akan pernah pudar. Karena, sekali lagi, perasaan itu selalu mampu mengalahkan rasa sakit. Aku takut jika suatu saat nanti, bila waktunya telah selesai, aku tidak lagi bersamanya, lalu bagaimana rindu akan tersampaikan? Dimana aku bisa menemukan seseorang seper...

Same Heart

"Forcing the foot to walk away from the end of the story." "I want to get well and stop loving, because as for as i go we just turn at this point." --- Iya, kau benar, Kekasih. Sejauh apapun kita pergi, sekuat apapun kita mencoba merela, kita selalu kembali pada titik yang sama. Padahal, masing-masing sudah ingin lepas dari perasaan. Namun, entah apa yang membuat rasa ini tertahan dalam dada. Sebenarnya, aku pun lelah. Tidakkah kau juga lelah terombang-ambing dalam perasaanmu? Seperti tidak lagi memiliki arah, seperti terjebak dalam jalan buntu namun kita tidak boleh berbalik arah. Rumit, memang. Tidak ada persoalan yang mudah jika mengenai perasaan, tidak ada hal yang instan untuk ini. Apalagi jika kenangan mulai merenggut kesadaran. Kenangan yang pernah membuatku begitu mencintai kehidupan. Sayang, hanya sebatas memori yang tidak bisa lagi dijalani kembali. Aku mengerti, Semesta memiliki maksud untuk memisahkan dua pasang manusia: pilihan yang tidak tep...

Hari Lahir

Hai, waktu begitu cepat berlalu ya. Sampai akhirnya semesta membawamu ke titik ini, titik dimana kau berhasil bertambah usia, detik yang kau pijak saat ini adalah bukti bahwa kau berhasil melewati semua perjalanan hidupmu. Kau berhasil melewati susah senangnya kehidupan, cerah peliknya perjalanan, kau hebat, kau luar biasa. Cobaan tidak membuatmu tumbang, kau selalu mampu bertahan, meskipun kau di titik diterendahmu. Aku senang, kau tidak pernah berfikir untuk benar-benar menyerah. Kau bersyukur untuk hidupmu. Kau memang tidak sempurna, begitu pula aku. Manusia diciptakan untuk memiliki kekurangan, karena itu mereka butuh untuk saling melengkapi. Terima kasih sudah ada, terima kasih sudah hadir. Terima kasih sudah mengisi duniaku, yang awalnya biasa menjadi lebih bermakna. Terima kasih telah membuatku mengerti apa arti kehidupan. Sudah menemaniku di setiap masalah dalam hidupku. Kau berharga, lebih dari yang kau tahu, aku tidak tahu bagaimana caranya agar kau mengetahui seberapa pent...