Tidak ada yang sempurna di bumi, tapi kita bisa memilih apa yang akan abadi di dunia ini.
Entah apa yang direncanakan semesta untukku. Perasaanku kali ini tidak baik-baik saja. Bukan karena terluka. Tapi semenjak genggamnya kembali terasa, perasaan ini semakin tidak karuan. Tidak bisa dijelaskan bagaimana rasanya. Ada bahagia, pun ingin menangis. Dan tidak akan bisa dipungkiri, rasa nyaman selalu mampu membuat bahagia, rasa nyaman itu masih ada dan tetap terasa sama.
Semesta, meskipun kau mengizinkan dan selalu membiarkan aku untuk mencintai sekali lagi. Aku tidak akan pernah kembali kepadanya, kau pun menolak bila aku melakukan itu, bukan? Biarkan saja perasaan ini menetap pada tempatnya, pada tempat yang berharga dalam hati. Akan kujaga tanpa harus kembali menyambung kisah.
Pada suatu perjalanan, genggaman itu... kembali membuatku merasakan takut kehilangan. Namun, kali ini entah mengapa, rasa takut kehilangan itu semakin parah dari yang pernah aku rasakan sebelumnya. Semesta, ada apa? Bukankah aku sudah kehilangannya sejak lama? Sejak aku yang memutuskan untuk berpisah dengannya. Mungkin hampir setengah tahun kisahku berakhir, namun perasaan tidak menunjukkan tanda ingin mati.
Aku tidak mau berkata bahwa perasaan ini akan abadi. Tidak. Kita akan tahu, kita akan memilih apa yang abadi di bumi. Namun, perasaan ini tidak akan kupilih untuk menjadi sesuatu yang abadi, aku tidak bisa terus memaksa menyimpan perasaan ini tanpa berani melangkah. Terkadang perasaan ini membuatku takut untuk memiliki harapan baru. Kalian tahu mengapa? Keraguan. Iya, aku ragu. Aku ragu bila aku tidak bisa menemukan bahagiaku, aku ragu bila aku bisa kembali bahagia.
Tapi, keraguan itu tidak akan mampu membuatku baik-baik saja. Karena itu aku harus berani memutuskan, kita tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri, kita harus adil dengan hati.
Aku kembali menangis. Bukan karena terluka. Namun sadar, bahwa apa yang telah dilepaskan tidak akan bisa kembali pada genggaman.
Tidak apa-apa, segalanya akan membaik. Aku harus bisa tanpamu, aku harus bisa mengendalikan hati dan pikiranku ketika kenangan tentangmu kembali teringat.
Terima kasih pernah hadir dan tidak memilih kembali.
Dulu, aku pernah meminta kala...
Waktu aku sendiri dan dikerubung sunyi
Bayangmu tiba-tiba menghampiri
Sepi tidak lagi terasa hening
Kala ingatan bersamamu berdatangan
Lalu hatiku berserakan
Dan yang kuharapkan
Kepingan hatiku berada di tengan jalan raya
Menunggu kendaraan melindasnya hingga hancur
Meleburkan yang hancur
Dan akhirnya, hilang...
Entah apa yang direncanakan semesta untukku. Perasaanku kali ini tidak baik-baik saja. Bukan karena terluka. Tapi semenjak genggamnya kembali terasa, perasaan ini semakin tidak karuan. Tidak bisa dijelaskan bagaimana rasanya. Ada bahagia, pun ingin menangis. Dan tidak akan bisa dipungkiri, rasa nyaman selalu mampu membuat bahagia, rasa nyaman itu masih ada dan tetap terasa sama.
Semesta, meskipun kau mengizinkan dan selalu membiarkan aku untuk mencintai sekali lagi. Aku tidak akan pernah kembali kepadanya, kau pun menolak bila aku melakukan itu, bukan? Biarkan saja perasaan ini menetap pada tempatnya, pada tempat yang berharga dalam hati. Akan kujaga tanpa harus kembali menyambung kisah.
Pada suatu perjalanan, genggaman itu... kembali membuatku merasakan takut kehilangan. Namun, kali ini entah mengapa, rasa takut kehilangan itu semakin parah dari yang pernah aku rasakan sebelumnya. Semesta, ada apa? Bukankah aku sudah kehilangannya sejak lama? Sejak aku yang memutuskan untuk berpisah dengannya. Mungkin hampir setengah tahun kisahku berakhir, namun perasaan tidak menunjukkan tanda ingin mati.
Aku tidak mau berkata bahwa perasaan ini akan abadi. Tidak. Kita akan tahu, kita akan memilih apa yang abadi di bumi. Namun, perasaan ini tidak akan kupilih untuk menjadi sesuatu yang abadi, aku tidak bisa terus memaksa menyimpan perasaan ini tanpa berani melangkah. Terkadang perasaan ini membuatku takut untuk memiliki harapan baru. Kalian tahu mengapa? Keraguan. Iya, aku ragu. Aku ragu bila aku tidak bisa menemukan bahagiaku, aku ragu bila aku bisa kembali bahagia.
Tapi, keraguan itu tidak akan mampu membuatku baik-baik saja. Karena itu aku harus berani memutuskan, kita tahu apa yang terbaik untuk diri sendiri, kita harus adil dengan hati.
Aku kembali menangis. Bukan karena terluka. Namun sadar, bahwa apa yang telah dilepaskan tidak akan bisa kembali pada genggaman.
Tidak apa-apa, segalanya akan membaik. Aku harus bisa tanpamu, aku harus bisa mengendalikan hati dan pikiranku ketika kenangan tentangmu kembali teringat.
Terima kasih pernah hadir dan tidak memilih kembali.
Dulu, aku pernah meminta kala...
Waktu aku sendiri dan dikerubung sunyi
Bayangmu tiba-tiba menghampiri
Sepi tidak lagi terasa hening
Kala ingatan bersamamu berdatangan
Lalu hatiku berserakan
Dan yang kuharapkan
Kepingan hatiku berada di tengan jalan raya
Menunggu kendaraan melindasnya hingga hancur
Meleburkan yang hancur
Dan akhirnya, hilang...
Tapi, nyatanya, sekarang, aku lebih memilih menyimpan dalam-dalam dengan baik kenangan bersamamu. Selamat malam.
Komentar
Posting Komentar