Saya masih ingat. Ketika sebuah perasaan kembali mengisi hati setelah sekian lama hampir lapuk. Perasaan yang tercipta untuk seseorang yang menghadiahkan perasaannya untuk orang lain. Perasaan tulus ikhlas yang tak terbalas. Hampir setahun rasa tak berumah itu saya genggam sendirian, rasa yang tertuju untuk dia, nyata namun terasa semu. Seseorang yang tak datang, juga tak pergi.
Hingga akhirnya, i think this is the right time. Bukan lelah atau putus asa. Tapi memang sudah waktunya untuk menyudahi, tidak ada lagi harapan baru untuk bertahan. Mencintai sendirian, rindu meradang tanpa pertemuan, luka hadir tanpa penyembuh, cukup. Sesuatu yang dibiarkan tanpa dipedulikan pun bisa rusak dan hilang, apalagi perasaan. Tidak ada yang membuat lega, yang membuat makin rumit banyak. Mungkin beberapa bahagia yang memang sempat saya nikmati, sendirian, diam-diam.
Dan ya, cerita selesai saat itu juga. Cerita yang saya bangun sendiri. Hingga akhirnya harus diakhiri sebab tidak mungkin bila cerita akan berakhir indah jika pemerannya hanya satu orang saja. Saya menyudahi gundah lara yang pernah terjadi. Saya gagalkan tujuan untuk selalu menyimpannya di hati saya. Ia pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya, bersama bukanlah akhir cerita. Saya ikhlaskan perasaan yang kini tak lagi menjadi teman dalam perjalanan. Tidak mudah memang, terbiasa dengan perasaan itu, lalu tiba-tiba berjuang untuk menghilangkannya. Dimana semakin keras berjuang, semakin susah perasaan itu dihilangkan.
Hampir menyerah, putus asa. Tidak tahu lagi harus dengan cara apa melepas semua yang pernah ada. Ketika itu saya berfikir. Bagaimana kalau dibiarkan saja, apakah bisa lepas dengan sendirinya? Selama ini saya terfokus untuk menghilangkan perasaan, terfokus untuk satu hal, berjuang mati-matian. Tanpa menyadari, hal itu akan membuat saya semakin tersiksa, memaksa sesuatu yang sebelumnya menemani hari lalu menyuruh pergi dengan waktu singkat. Saya menyadari, hati pun butuh istirahat. Ia lelah dengan semua hal paksa yang saya lakukan. Hati tahu kemana ia akhirnya berhenti, ia memiliki waktu sendiri yang tidak bisa saya tebak, abstrak. Saya yakin takdir tidak akan salah memberi cerita, seburuk apapun akhirnya. Tak ada yang disesali.
Saya nikmati proses yang ada, tanpa paksaan, tanpa penolakan. Sakit hati, rindu, kesepian, dan kebingungan. Hingga waktu membawa langkah saya ke sebuah dunia baru. Dan saat itu saya percaya, setiap akhir cerita adalah langkah untuk menemui cerita baru yang jauh lebih indah. Mungkin saya juga percaya, dengan mengobati sakit hati terkadang kita perlu seseorang baru yang bersedia menitih tatih langkah terpuruk kita sebab luka yang sebelumnya bersemi.
Iya, seseorang itu datang: kau. Seseorang yang tak pernah diduga sebelumnya. Jauh diluar rencana, diluar mimpi dan harapan. Tetap tidak mudah untuk mudah menerimamu begitu saja, banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Termasuk patah hati yang baru saja saya alami, bukan takut untuk menerimamu tapi saya khawatir luka yang ada akan menghambat rencana yang akan tercipta. Kembali di luar dugaan, kamu tetap bersikeras memperjuangkan apa yang ingin kamu capai, dan saya yang bersikeras menolak masuk ke cerita baru. Dan singkat cerita, Semesta memberimu hadiah, Semesta memberi saya petunjuk langkah.
Semesta menuntun saya untuk menemuimu, dunia yang sesungguhnya menawarkan banyak keindahan, nyata, tak semu. Kamu hadir, memperbaiki apapun yang hancur dalam diri saya. Membantu saya berdiri ketika luka membuat saya begitu rapuh. Saya kembali merasakan bagaimana rasanya dicintai dengan tulus. Dibahagiakan dengan begitu sungguh. Meski terkadang, luka akan selalu ada, tapi tidak apa-apa. Hingga akhirnya waktu membawaku ke titik bahagia: bersamamu.
---
Ah, tulisan ini bukan untuk membedakan apa yang terjadi dulu dan kini. Tidak ada maksud untuk itu. Bahwasanya hidup akan terus berjalan memberikan kejutan-kejutan diluar dugaan. Coba lihat dari sudut pandang yang benar, yang tepat. Saya selalu percaya, setiap kisah memiliki maknanya sendiri-sendiri, tentu saja bahagia dan luka akan jadi pengiringnya. Meskipun akhir kisah tidaklah menyenangkan, setidaknya masih ada kenangan yang membawa kebahagiaan. Segala yang saya lalui, sudah Semesta buktikan itu pada tiap-tiap kisah saya.
Tapi, ini adalah kisah singkat tentang perjalanan seorang perempuan bahwa patah hati bisa datang dari siapa saja dan kapan saja. Seberapa dalam hati terluka dan kita terjatuh, itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dan dari kisah yang pernah dilewati. Kisah yang bermula cinta sendiri, patah hati, mengikhlaskan, gagal, mencoba lagi, dan tetap gagal.
Namun, proses akan selalu memberi akhir yang baik meski terlihat buruk. Hingga akhirnya proses menyakitkan itu akhirnya berhenti, seseorang datang mengajak untuk melangkahkan kaki dan memantapkan hati. Ke tempat yang tentunya lebih indah, tidak ada yang menjamin tidak akan ada luka. Sebab, luka adalah langkah menuju kebahagiaan itu sendiri. Iya, hidup adalah perjalanan menikmati luka untuk kembali bahagia.
Selalu percaya. Bahwa luka itu menguatkan, bukan menjatuhkan.
Hingga akhirnya, i think this is the right time. Bukan lelah atau putus asa. Tapi memang sudah waktunya untuk menyudahi, tidak ada lagi harapan baru untuk bertahan. Mencintai sendirian, rindu meradang tanpa pertemuan, luka hadir tanpa penyembuh, cukup. Sesuatu yang dibiarkan tanpa dipedulikan pun bisa rusak dan hilang, apalagi perasaan. Tidak ada yang membuat lega, yang membuat makin rumit banyak. Mungkin beberapa bahagia yang memang sempat saya nikmati, sendirian, diam-diam.
Dan ya, cerita selesai saat itu juga. Cerita yang saya bangun sendiri. Hingga akhirnya harus diakhiri sebab tidak mungkin bila cerita akan berakhir indah jika pemerannya hanya satu orang saja. Saya menyudahi gundah lara yang pernah terjadi. Saya gagalkan tujuan untuk selalu menyimpannya di hati saya. Ia pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya, bersama bukanlah akhir cerita. Saya ikhlaskan perasaan yang kini tak lagi menjadi teman dalam perjalanan. Tidak mudah memang, terbiasa dengan perasaan itu, lalu tiba-tiba berjuang untuk menghilangkannya. Dimana semakin keras berjuang, semakin susah perasaan itu dihilangkan.
Hampir menyerah, putus asa. Tidak tahu lagi harus dengan cara apa melepas semua yang pernah ada. Ketika itu saya berfikir. Bagaimana kalau dibiarkan saja, apakah bisa lepas dengan sendirinya? Selama ini saya terfokus untuk menghilangkan perasaan, terfokus untuk satu hal, berjuang mati-matian. Tanpa menyadari, hal itu akan membuat saya semakin tersiksa, memaksa sesuatu yang sebelumnya menemani hari lalu menyuruh pergi dengan waktu singkat. Saya menyadari, hati pun butuh istirahat. Ia lelah dengan semua hal paksa yang saya lakukan. Hati tahu kemana ia akhirnya berhenti, ia memiliki waktu sendiri yang tidak bisa saya tebak, abstrak. Saya yakin takdir tidak akan salah memberi cerita, seburuk apapun akhirnya. Tak ada yang disesali.
Saya nikmati proses yang ada, tanpa paksaan, tanpa penolakan. Sakit hati, rindu, kesepian, dan kebingungan. Hingga waktu membawa langkah saya ke sebuah dunia baru. Dan saat itu saya percaya, setiap akhir cerita adalah langkah untuk menemui cerita baru yang jauh lebih indah. Mungkin saya juga percaya, dengan mengobati sakit hati terkadang kita perlu seseorang baru yang bersedia menitih tatih langkah terpuruk kita sebab luka yang sebelumnya bersemi.
Iya, seseorang itu datang: kau. Seseorang yang tak pernah diduga sebelumnya. Jauh diluar rencana, diluar mimpi dan harapan. Tetap tidak mudah untuk mudah menerimamu begitu saja, banyak hal yang harus saya pertimbangkan. Termasuk patah hati yang baru saja saya alami, bukan takut untuk menerimamu tapi saya khawatir luka yang ada akan menghambat rencana yang akan tercipta. Kembali di luar dugaan, kamu tetap bersikeras memperjuangkan apa yang ingin kamu capai, dan saya yang bersikeras menolak masuk ke cerita baru. Dan singkat cerita, Semesta memberimu hadiah, Semesta memberi saya petunjuk langkah.
Semesta menuntun saya untuk menemuimu, dunia yang sesungguhnya menawarkan banyak keindahan, nyata, tak semu. Kamu hadir, memperbaiki apapun yang hancur dalam diri saya. Membantu saya berdiri ketika luka membuat saya begitu rapuh. Saya kembali merasakan bagaimana rasanya dicintai dengan tulus. Dibahagiakan dengan begitu sungguh. Meski terkadang, luka akan selalu ada, tapi tidak apa-apa. Hingga akhirnya waktu membawaku ke titik bahagia: bersamamu.
---
Ah, tulisan ini bukan untuk membedakan apa yang terjadi dulu dan kini. Tidak ada maksud untuk itu. Bahwasanya hidup akan terus berjalan memberikan kejutan-kejutan diluar dugaan. Coba lihat dari sudut pandang yang benar, yang tepat. Saya selalu percaya, setiap kisah memiliki maknanya sendiri-sendiri, tentu saja bahagia dan luka akan jadi pengiringnya. Meskipun akhir kisah tidaklah menyenangkan, setidaknya masih ada kenangan yang membawa kebahagiaan. Segala yang saya lalui, sudah Semesta buktikan itu pada tiap-tiap kisah saya.
Tapi, ini adalah kisah singkat tentang perjalanan seorang perempuan bahwa patah hati bisa datang dari siapa saja dan kapan saja. Seberapa dalam hati terluka dan kita terjatuh, itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dan dari kisah yang pernah dilewati. Kisah yang bermula cinta sendiri, patah hati, mengikhlaskan, gagal, mencoba lagi, dan tetap gagal.
Namun, proses akan selalu memberi akhir yang baik meski terlihat buruk. Hingga akhirnya proses menyakitkan itu akhirnya berhenti, seseorang datang mengajak untuk melangkahkan kaki dan memantapkan hati. Ke tempat yang tentunya lebih indah, tidak ada yang menjamin tidak akan ada luka. Sebab, luka adalah langkah menuju kebahagiaan itu sendiri. Iya, hidup adalah perjalanan menikmati luka untuk kembali bahagia.
Selalu percaya. Bahwa luka itu menguatkan, bukan menjatuhkan.
Komentar
Posting Komentar